Indonesia Kena Tarif AS, Kadin Sebut Pintu Negosiasi Masih Terbuka

18 hours ago 5

Kadin meyakini Indonesia memiliki peran yang penting bagi AS meski Presiden Donald Trump mengenakan tarif resiprokal.

 MNC Media)

Kadin meyakini Indonesia memiliki peran yang penting bagi AS meski Presiden Donald Trump mengenakan tarif resiprokal. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini Indonesia memiliki peran yang penting bagi AS meski Presiden Donald Trump mengenakan tarif resiprokal. Oleh karena itu, tarif impor tersebut masih berpeluang dinegosiasikan.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie mengatakan, pernyataan Trump merupakan opening statement. Oleh sebab itu, kata dia, Indonesia masih bisa bernegosiasi dengan AS.

"Artinya pintu negosiasi masih terbuka. Posisi Indonesia sangat strategis di kawasan Pasifik," katanya lewat keterangan resmi, Jumat (4/4/2025).

Menurut Anindya, hubungan AS dan Indonesia saat ini saling membutuhkan satu sama lain. Dia menilai, AS adalah mitra bisnis strategis bagi Indonesia sementara AS dipandang karena posisi geopolitik dan geokonominya yang kuat.

"Selain bagian dari  kekuatan ekonomi ASEAN, Indonesia adalah anggota APEC yang strategis. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan pimpinan negara nonblok, juga tentu menjadi pertimbangan Trump," ujarnya.

Oleh karena itu, Kadin mendukung penuh keputusan pemerintah Indonesia yang telah berkomunikasi dengan pemerintah AS soal kebijakan tarif resiprokal tersebut. Dia menilai, jalur dialog yang telah dibangun oleh pemerintah sangat tepat.

Anindya menyebut, besaran tarif resiprokal sebesar 32 persen bakal berdampak besar bagi ekonomi Indonesia. Jika AS benar-benar melakukannya, maka akan menimpa neraca pembayaran, khususnya neraca perdagangan dan arus investasi.

AS, kata dia, merupakan pemasong valas terbesar yang menyumbang surplus neraca perdagangan hingga USD16,8 miliar pada 2024. Indonesia banyak mengekspor barang ke Negeri Paman Sam dan angkanya meningkat pada tahun lalu.

Dia menyebut, sebagian besar komoditas seperti elektronik, alas kaki, hingga pakaian yang diekspor ke AS dikenakan tarif impor 10 persen. Namun, banyak barang konsumsi yang tidak terkena tarif alias bebas bea masuk karena Indonesia menikmati fasilitas preferensi sistem umum (GSP) yang diberikan AS kepada negara-negara berkembang.

Oleh karena itu, dia menilai, Indonesia perlu melakukan negosiasi perdagangan secara selektif dengan AS. Fokus bisa dilakukan pada industri padat karya yang terdampak secara vertikal dari hulu hingga hilir.

Dia menyebut, ada peluang Indonesia tetap mempertahankan hubungan baik dengan AS sebagai mitra dagang. Pasalnya, AS membutuhkan pasar bagi peralatan pertahanan, pesawat terbang, hingga LNG.

"Kita bisa menegosiasikan hal ini dengan produk ekspor andalan Indonesia," katanya.

Anindya mengatakan, Indonesia perlu menjadikan hal ini sebagai momentum untuk mendorong ekonomi. Salah satunya dengan menekan ekonomi biaya tinggi yang selama ini menghambat investasi di Indonesia.

(Rahmat Fiansyah)

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |