Daftar Produk RI yang Banyak Diekspor ke AS, Terbesar Peralatan Listrik

18 hours ago 5

Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif resiprokal ke berbagai negara. Salah satunya Indonesia.

Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif resiprokal ke berbagai negara. Salah satunya Indonesia. (

Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif resiprokal ke berbagai negara. Salah satunya Indonesia. (

IDXChannel - Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif resiprokal ke berbagai negara. Salah satunya Indonesia yang dikenakan tarif impor tambahan sebesar 32 persen dari basis tarif 10 persen.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah komoditas utama yang banyak diekspor ke Negeri Paman Sam. Adapun produk ekspor terbesar yang bakal terdampak yakni peralatan listrik.

“Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furnitur, udang, dan produk-produk perikanan laut,” ujarnya dikutip Jumat (4/4/2025).

Kebijakan tarif resiprokal ini mulai berlaku efektif 9 April 2025. Airlangga menyebut, pengenaan tarif ini akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS.

Terkait detailnya, kata dia, pemerintah tengah menghitung dampaknya terhadap sektor-sektor yang terkena, termasuk potensi penurunan volume ekspor serta terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor ke AS pada tahun lalu meningkat saat ekspor ke negara-negara utama lainnya turun. Di 2024, ekspor nonmigas ke AS mencapai USD26,31 miliar, naik dari 2023 yang sebesar USD23,33 miliar.

Barang mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dengan kode HS 85 mendominasi ekspor produk ke AS mencapai USD4,18 miiliar. Ekspor ini mencapai 27,78 persen dari total ekspor barang elektronik RI yang sebesar USD15,05 miliar.

Ekspor barang elektronik ini juga memberikan surplus tertinggi yakni USD3,68 miliar, diikuti oleh surplus dari produk pakaian dan aksesorisnya (HS 61) USD2,48 miliar dan alas kaki (HS 64) USD2,33 miliar.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menilai, jika AS menindaklanjuti rencana tarif impor 32 persen untuk produk Indonesia, maka akan berdampak pada neraca pembayaran, terutama neraca perdagangan. AS merupakan pemasok valas terbesar ke Indonesia lewat surplus neraca perdagangan.

"Mitra dagang bilateral terbesar Indonesia pada tahun 2024 adalah AS yang memberikan surplus USD16,8 miliar kepada Indonesia," ujarnya.

Dia mengungkapkan, hampir semua ekspor komoditas utama Indonesia ke AS meningkat pada 2024. Sebagian besar barang Indonesia yang diekspor ke AS adalah produk manufaktur, yaitu peralatan listrik, alas kaki, dan pakaian alias bukan komoditas mentah.  

"Selama ini, produk Indonesia dikenakan tarif impor sekitar 10 persen di AS. Namun, faktanya, beberapa barang konsumsi sepenuhnya bebas bea masuk, karena Indonesia menikmati fasilitas preferensi sistem umum (GSP) yang diberikan oleh pemerintah AS kepada negara-negara berkembang," ujarnya.

(Rahmat Fiansyah)

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |