AS Kenakan Tarif Impor 32 Persen untuk Indonesia, Analis Ungkap Dampaknya pada Ekonomi

19 hours ago 6

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor balasan atau timbal balik sebesar 32 persen terhadap Indonesia.

 Unsplash)

AS Kenakan Tarif Impor 32 Persen untuk Indonesia, Analis Ungkap Dampaknya pada Ekonomi. (Foto: Unsplash)

IDXChannel - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor balasan atau timbal balik sebesar 32 persen terhadap Indonesia.

Kebijakan ini mulai berlaku pada Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis (3/4/2025) pagi waktu Indonesia, menambah tekanan bagi perdagangan global.

Langkah ini diambil dengan alasan adanya hambatan dagang dan manipulasi mata uang yang dilakukan Indonesia, yang dinilai mencapai 64 persen terhadap AS.

Menurut penjelasan Fact Sheet di website whitehouse.gov, yang merupakan situs resmi pemerintah AS, Indonesia tetap mempertahankan persyaratan kandungan lokal di berbagai sektor, serta sistem perizinan impor yang kompleks. Mulai tahun ini, perusahaan sumber daya alam juga diwajibkan untuk menempatkan seluruh pendapatan ekspor di dalam negeri untuk transaksi senilai USD250.000 atau lebih.

Berdasarkan analisis Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI), Ezaridho Ibnutama, dalam risetnya pada Kamis (3/4/2025), dalam skala Asia Tenggara, tarif ini merupakan yang ketiga tertinggi setelah Vietnam (46 persen) dan Thailand (36 persen).

Ezaridho menilai kebijakan ini berpotensi menekan surplus dagang Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi.

"Surplus perdagangan Indonesia per Februari 2025 masih mencapai USD3,12 miliar, ditopang oleh penurunan impor akibat tekanan sosial ekonomi domestik,” demikian mengutip Ezaridho.

Namun, katanya, dengan AS sebagai eksportir terbesar kedua bagi Indonesia, tarif baru ini bisa menggerus nilai ekspor dalam beberapa bulan ke depan jika tidak ada negosiasi bilateral.

Ezaridho menambahkan, negara mitra dagang lain diperkirakan tidak dapat sepenuhnya menggantikan pasar AS.

“Saat ini, China tidak berada dalam posisi ekonomi yang memungkinkan ekspansi manufaktur secara agresif (tanpa berisiko menciptakan gelembung investasi yang berlebihan di sektor industrinya),” ujar Ezaridho.

Sementara itu, demikian masih mengutip Ezaridho, Vietnam dan India juga bukan alternatif yang layak karena keduanya bergantung pada permintaan dari AS untuk mendorong pertumbuhan, sekaligus menghadapi tarif yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia

Lebih luas, NH Korindo menilai tarif balasan ini sebagai bagian dari pergeseran arah perdagangan global yang ingin mengurangi dominasi China dan mengembalikan peran AS sebagai pusat manufaktur.

“Salah satu risiko dari penerapan tarif balasan ini adalah kemungkinan negara-negara terdampak membentuk blok perdagangan bebas, seperti perjanjian trilateral antara Jepang, Korea Selatan, dan China yang baru-baru ini disepakati. Langkah ini dapat menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi dan kapasitas manufaktur Amerika Serikat,” kata Ezaridho.

Dengan terbatasnya akses ke pasar AS, ujar Eza, setiap negara mungkin akan mengalihkan fokus produksi ke pasar regional dan negara-negara tetangga, ketimbang bergantung pada perdagangan internasional yang lebih jauh.

“Hal ini menjadi bagian penting dari kebijakan internasional Trump untuk mengurangi globalisasi dan mendorong ekonomi berbasis domestik,” katanya.

Dampaknya bagi Indonesia cukup signifikan, mengingat perekonomian domestik masih bergantung pada investasi asing langsung (FDI) dan ekspor.

“"Kelemahannya, sebagian besar perekonomian, termasuk Indonesia, berisiko menghadapi tekanan lebih besar karena ketergantungan pada FDI dan pasar ekspor, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sudah rapuh," kata Ezaridho.

Ezaridho menilai, dominasi konsumsi rumah tangga dalam struktur PDB telah membuat metrik ekonomi ini lebih condong pada konsumsi barang akhir.

Menurutnya, metrik yang lebih akurat dalam mengukur aktivitas ekonomi adalah Gross Output, yang mencakup barang awal dan menengah serta transaksi antar bisnis (B2B).

Ia mencatat, penyusutan Gross Output Indonesia saat ini mencerminkan laju pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Ezaridho menyatakan, sejumlah investor asing mempertaruhkan posisi melawan ekonomi AS akibat tarif ini. Mereka berpendapat bahwa Presiden Trump telah mengambil risiko besar tanpa negosiasi terlebih dahulu dengan China, yang seharusnya menjadi prioritas utama sebelum melibatkan negara-negara lain.

Menurutnya, kebijakan ini justru akan mengundang lebih banyak konflik dan kerja sama yang tak terduga, yang dapat mengarah pada isolasi perdagangan AS.

“Sebagai dampaknya, indeks saham AS dan dolar AS mulai melemah. Sementara emas, yang dianggap sebagai pelindung alami terhadap dolar, mencapai rekor tertinggi baru,” katanya.

Menanggapi pengumuman dari Trump, pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan akan mengadakan konferensi pers mengenai 'Respons Terhadap Kebijakan Penerapan Tarif Perdagangan Baru Amerika Serikat terhadap Negara Mitra' pada Kamis (3/4/2025), pukul 10.45 WIB. (Aldo Fernando)

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |