Pasangan suami istri yang telah menjadi orang tua dapat melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan finansial.
7 Dosa Finansial Orang Tua yang Berdampak Buruk pada Masa Depan Anak. (Foto: Freepik)
IDXChannel—Simak 7 dosa finansial orang tua yang berdampak negatif pada kesejahteraan anak. Pasangan suami istri yang telah menjadi orang tua dapat melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan finansial.
Sebagai dampaknya, sang anak harus menanggung kesalahan keputusan tersebut. Dampak yang lazim terjadi adalah anak terancam putus sekolah, anak ikut terjerat utang orang tua, kebutuhan dan hak anak tidak terpenuhi, dan sebagainya.
Saat menikah dan menjadi orang tua, pengelolaan keuangan harus dilakukan sebaik mungkin agar semua pos kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi dengan baik, termasuk kebutuhan pokok yang menjadi hak sang anak.
Seorang anak berhak mendapatkan pemenuhan kebutuhan dari kedua orang tuanya, sehingga orang tua wajib mencari nafkah dan mengelola keuangan rumah tangga sebaik mungkin agar hak anak tidak terganggu.
Namun terkadang orang tua membuat keputusan finansial yang salah, kemudian berdampak pada hak anak dan keluarga yang harus dikorbankan. Melansir beragam sumber (4/4), berikut ini adalah 7 dosa finansial orang tua yang berdampak pada anak.
7 Dosa Finansial Orang Tua yang Berdampak pada Anak di Masa Depan
1. Tidak Memiliki Proteksi Kesehatan
Salah satu tanggungan finansial yang mendadak dengan nominal besar adalah pengeluaran untuk kesehatan. Dalam hal ini, asuransi kesehatan berguna untuk mengurangi beban finansial yang harus ditanggung pasien.
Proteksi kesehatan tidak mesti diperoleh dari asuransi swasta yang mahal, sebab BPJS Kesehatan telah memberikan perlindungan kesehatan universal dengan iuran yang terjangkau untuk masyarakat kelas menengah.
Bahkan masyarakat miskin dapat memperoleh layanan BPJS Kesehatan tanpa membayar iuran melalui program Kartu Indonesia Sehat. Meskipun BPJS Kesehatan tidak menutup biaya medis 100 persen, keberadaannya cukup meringankan beban pasien.
Tanpa perlindungan kesehatan, orang yang sakit dapat membebani finansial keluarganya dalam jangka panjang.
2. Berutang tanpa Sepengetahuan Pasangan
Utang adalah beban finansial yang harus dilunasi. Dalam hubungan berumah tangga, idealnya utang haruslah dibuat dengan kesepakatan suami dan istri. Salah satu pasangan tidak boleh mengajukan utang tanpa sepengetahuan yang lainnya.
Sehingga ketika utang tersebut tidak lancar, atau ketika debitur tidak mampu membayar, maka pasangan tahu dan dapat mengelola keuangan untuk memenuhi kebutuhan. Namun jika utang dibuat diam-diam, ketika gagal bayar pasangan bisa kebingungan.
Apalagi jika pasangan yang berutang akhirnya menggunakan uang yang mestinya dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga untuk melunasi utang. Atau meninggalkan utang kepada anak untuk dilunasi.
3. Kecanduan Judi Online
Kecanduan judi online juga merupakan dosa finansial yang dapat dilakukan orang tua. Salah satu pasangan yang kecanduan judi online akan menganggu keuangan rumah tangga, apalagi jika yang kecanduan judol adalah sang suami.
Penghasilan bulanan yang mestinya diberikan kepada istri dan anak untuk dikelola, malah digunakan untuk judi online. Akibatnya, kondisi keuangan berantakan dan pemenuhan kebutuhan anak jadi terganggu.
4. Diam-Diam Menanggung Hidup Orang Lain
Seringkali salah satu pasangan tidak terbuka kepada pasangannya dan diam-diam membiayai hidup orang tua atau saudaranya. Bahkan tidak jarang kebutuhan anak dan istrinya justru dinomorduakan.
Padahal uang yang dihasilkan dari pekerjaannya sehari-hari mestinya diberikan kepada keluarga intinya terlebih dahulu. Jika ada kelebihan, barulah suami dapat membantu biaya hidup orang lain.
5. Diam-Diam Meminjamkan Uang
Sama seperti berutang, meminjamkan uang kepada orang lain juga harus dikomunikasikan kepada pasangan. Sehingga pasangan tahu ke mana perginya uang yang dihasilkan pasangannya dan dapat mengatur keuangan rumah tangga lebih baik.
Meminjamkan uang tanpa sepengetahuan pasangan dapat berdampak pada kesejahteraan anak, apalagi jika utang tersebut sulit ditagih dan lama dikembalikan oleh si peminjam. Sementara ada kebutuhan anak dan rumah tangga yang mendesak.
6. Sulit Berkata Tidak
Seringkali kesalahan keputusan finansial diakibatkan oleh kesulitan seseorang untuk berkata tidak. Baik kepada diri sendiri, pasangan, anaknya sendiri, dan orang lain. Ini berkaitan dengan perilaku konsumtif yang akhirnya membuat keuangan berantakan.
Tidak semua permintaan harus dituruti, terutama permintaan yang bersifat tersier belaka. Tanpa pengendalian diri, orang tua akan sulit menabung dan akan sering menghabiskan uang untuk kebutuhan-kebutuhan tidak penting.
7. Menggunakan Dana Pendidikan
Menggunakan dana pendidikan yang sudah ditabung jauh-jauh hari untuk kebutuhan personal juga termasuk dosa finansial orang tua kepada anak. Dana pendidikan adalah uang panas yang tidak boleh diganggu gugat.
Dana pendidikan tersebut adalah hak sang anak untuk digunakan sebagai biaya pendidikannya di masa depan. Sehingga tidak boleh digunakan salah satu atau kedua orang tuanya sendiri untuk kebutuhan-kebutuhan konsumtif.
Itulah 7 dosa finansial orang tua yang berdampak negatif pada kesejahteraan anak.
(Nadya Kurnia)