Presiden AS Donald J Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada sesi gabungan Kongres di House Chamber of the US Capitol di Washington, DC, AS, 24 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump telah diperingatkan Kepala Staf Gabungan bahwa Iran dapat menutup Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia, jika menyerang Teheran.
Peringatan itu disampaikan Jenderal Dan Caine sebelum AS melancarkan agresi ke Iran. Namun Trump tak menggubris dan kini salah perhitungan.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal pada Ahad (15/3/2026), keputusan untuk menyerang Iran diambil meskipun ada peringatan keras tentang potensi konsekuensi penutupan Selat Hormuz dan kemungkinan guncangan yang dapat ditimbulkannya pada ekonomi global.
Caine mengatakan kepada presiden bahwa para pejabat AS telah lama meyakini bahwa Iran dapat mengerahkan ranjau laut, drone, dan rudal dalam upaya untuk memblokir selat terpenting pelayaran di dunia itu.
Namun, The Wall Street Journal mengutip orang-orang yang mengetahui diskusi internal menuliskan Trump mengakui risiko itu, tetapi tetap memutuskan untuk melanjutkan operasi militer. Menurut laporan tersebut, presiden yakin Iran kemungkinan akan menyerah sebelum mengambil langkah tersebut.
Ia juga mengatakan kepada para penasihatnya bahwa bahkan jika Teheran mencoba memblokir selat tersebut, militer AS akan mampu mengatasi ancaman tersebut.
Selat Hormuz adalah jalur ekspor minyak terpenting di dunia, yang menghubungkan produsen utama Teluk—termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab—ke Teluk Oman dan Laut Arab.
Sejak perang dimulai, Iran telah mengambil langkah-langkah untuk mengganggu pengiriman di daerah tersebut, memblokir beberapa kapal tanker minyak dan menyerang kapal kargo, perkembangan yang telah berkontribusi pada peningkatan pesat harga minyak global.
.png)
3 hours ago
6














































