REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan biaya enam hari pertama perang melawan Iran telah mencapai sedikitnya 11,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 180,8 triliun, asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS).
Perkiraan tersebut disampaikan pejabat pemerintahan Trump dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pekan ini, menurut sumber yang mengetahui pertemuan tersebut pada Rabu (11/3/2026).
Angka itu disampaikan kepada para senator dalam pengarahan tertutup pada Selasa. Namun, nilai tersebut belum mencakup seluruh biaya konflik dan hanya diberikan sebagai gambaran awal setelah para anggota parlemen meminta informasi lebih rinci mengenai operasi militer tersebut.
Beberapa ajudan Kongres memperkirakan Gedung Putih akan segera mengajukan permintaan pendanaan tambahan untuk perang tersebut. Nilai pengajuan itu diperkirakan bisa mencapai 50 miliar dolar AS (sekitar Rp800 triliun), meskipun sejumlah pejabat menilai angka tersebut kemungkinan masih terlalu rendah.
Sejauh ini pemerintah AS belum memberikan penilaian publik yang komprehensif mengenai total biaya konflik maupun estimasi berapa lama perang akan berlangsung.
Dalam kunjungannya ke Kentucky pada Rabu, Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini “memenangkan perang”, namun menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga tujuan mereka tercapai.
Angka perkiraan biaya 11,3 miliar dolar AS tersebut pertama kali dilaporkan oleh harian The New York Times.
Amunisi triliuan rupiah
Kampanye militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang dilancarkan AS bersama Israel. Agresi tersebut hingga kini dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sebagian besar warga Iran dan Lebanon, setelah pertempuran meluas hingga wilayah Lebanon.
Perang tersebut juga memicu gejolak di pasar energi global serta mengganggu sektor transportasi internasional.
Pejabat pemerintah juga menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa sekitar 5,6 miliar dolar AS (sekitar Rp 89,6 triliun) nilai amunisi telah digunakan hanya dalam dua hari pertama operasi militer.
Para anggota Kongres mulai menyuarakan kekhawatiran bahwa agresi berkepanjangan oleh negara mereka dapat menguras persediaan militer Amerika Serikat. Kekhawatiran ini muncul di tengah tekanan terhadap industri pertahanan yang saat ini juga berupaya memenuhi berbagai permintaan senjata.
Pekan lalu, Trump bahkan mengadakan pertemuan dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan ketika Pentagon berusaha mempercepat produksi dan mengisi kembali stok amunisi militer.
Sementara itu, anggota parlemen dari Partai Demokrat mendesak agar pejabat pemerintahan memberikan kesaksian publik di bawah sumpah mengenai rencana perang tersebut. Mereka meminta penjelasan mengenai perkiraan durasi konflik serta strategi Washington terhadap Iran setelah pertempuran berakhir.
sumber : Reuters
.png)
4 hours ago
4
















































