Swiss Tolak Wilayah Udaranya Dilintasi untuk Serang Iran

10 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BERN — Pemerintahan di Swiss, menolak kawasan udaranya dijadikan perlintasan pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat (AS) dalam masa agresinya dengan Republik Islam Iran. Pemerintahan di Bern baru-baru ini menolak dua kali permohonan AS demi menjaga netralitas.

Reuters memberitakan, sebagai negara yang netral, Swiss mempertahankan perannya, agar seluruh wilayahnya hanya untuk misi-misi kemanusian. "Pemerintah Swiss telah membahas permintaan dari pesawat militer AS untuk terbang di atas negara itu berdasarkan hukum negara netralitasnya,” begitu berita Reuters, Ahad (15/3/2026).

Pada Sabtu (14/3/2026) dua jet tempur AS meminta izin melintas di wilayah udara Swiss untuk misi perangnya yang saat ini masih berlangsung di kawasan Timur Tengah (Timteng). Tetapi otoritas di Bern, melarang armada tempur itu melintas.

“Hukum netralitas melarang penerbangan lintas wilayah oleh pihak-pihak yang terlibat konflik (peperangan) yang bertujuan militer terkait konflik tersebut,” begitu pernyataan resmi pemerintah Swiss. Namun pada hari yang sama, masih menurut Reuters, pemerintahan di Swiss memberikan izin perlintasan dan transit tiga armada pesawat kemanusian dari AS menuju Timteng.

"Yang diizinkan adalah transit untuk kebutuhan kemanusian, dan medis. Termasuk pengangkutan orang-orang yang terluka, serta penerbangan lintas wilayah yang tidak ada kaitannya dengan konflik,” begitu pernyataan Swiss.

AS bersama Zionis Israel saat ini dalam masa perang terbuka dengan Republik Islam Iran. Kecamuk perang sudah memasuki pekan ketiga sejak serangan pertama Zionis-AS ke Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Peperangan tersebut, semakin melebar ke wilayah-wilayah negara Teluk Arab. Fron baru peperangan, juga terjadi di antara perbatasan antara wilayah penjajahan Israel dengan Lebanon di mana faksi pejuang Hizbullah di kawasan itu membantu Iran dalam melawan rezim zionis.

Angka kematian perang tersebut sudah mencapai ribuan. Di Iran, penyampaian resmi pemerintahan di Teheran menyampaikan korban meninggal dunia akibat agresi Zionis-AS sudah mencapai 1.500-an orang, termasuk 175 anak-anak sekolah perempuan yang sengaja dibombardir Zionis-AS pada serangan pertama, Sabtu (28/2/2026). Di wilayah penjajahan Israel, otoritas resmi zionis menutupi angka kematian, meskipun Kementerian Kesehatan menyampaikan sekitar 3.000 warganya menjadi korban luka-luka dan kritis. 

Sementara di Lebanon, peperangan antara militer zionis dengan pejuang Hizbullah, berdampak pada masifnya korban jiwa sipil mencapai 900-an. Sedangkan di negara-negara Arab, yang menjadi basis pangkalan-pangkalan militer AS, catatan korban jiwa meninggal dunia belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, dari banyak pemberitaan, di wilayah-wilayah pangkalan militer AS itu, banyak prajurit Paman Sam yang mati terkena serangan rudal-rudal Iran.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |