Orang-orang berduka saat pemakaman lebih dari tujuh orang korban pengeboman ISrael di Saksakiyeh, Lebanon selatan, 10 Mei 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT — Serangan Israel di Lebanon kembali memakan korban besar. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 56 orang tewas dan 103 lainnya terluka akibat serangan yang terus berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon.
Kementerian Kesehatan Lebanon pada Selasa (26/5/2026) menyebutkan total korban sipil sejak 2 Maret telah mencapai 3.213 orang tewas dan 9.737 luka-luka. Sehari kemudian, angka tersebut kembali bertambah menjadi 3.269 korban tewas dan 9.840 orang terluka.
Sumber militer Lebanon kepada RIA Novosti mengatakan, pesawat tempur Israel menyerang sedikitnya 47 kota dan desa di wilayah selatan dan timur Lebanon pada Rabu (27/5/2026). Serangan disebut banyak menyasar wilayah Nabatieh, Tyre, hingga beberapa daerah di Lembah Bekaa.
Situasi di perbatasan Lebanon-Israel terus memanas meski kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata. Pada 16 April lalu, Lebanon dan Israel menggelar pembicaraan langsung pertama di tingkat duta besar di Washington.
Usai pertemuan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, di lapangan, serangan Israel disebut masih berlangsung hampir setiap hari terhadap sejumlah permukiman di Lebanon selatan.
Israel juga dilaporkan masih mengendalikan tembakan di sejumlah kawasan perbatasan. Kondisi itu memicu balasan dari Hizbullah Lebanon yang terus melancarkan operasi terhadap pasukan Israel.
Konflik yang berkepanjangan itu membuat situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk. Ribuan warga sipil menjadi korban sejak eskalasi serangan meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
sumber : Antara
.png)
16 hours ago
4

















































