Merangkai Realitas Menjadi Cerita, Frame Festival 2026 Beri Apresiasi Sineas Muda di Yogyakarta

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Ruang Audio Visual Grhatama Pustaka menjadi saksi kemeriahan acara penganugerahan dan talkshow lomba film dokumenter Frame Festival, Sabtu (20/6/2026). Acara ini sukses menjadi wadah apresiasi sekaligus ruang edukasi bagi para pembuat film dokumenter berbakat untuk saling berbagi karya dan gagasan.

Rangkaian acara dibuka dengan sesi talkshow edukatif yang menghadirkan seorang dosen sekaligus praktisi perfilman dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Febfi Setyawati. Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, Febfi banyak membagikan wawasan mendalam seputar seluk-beluk dunia produksi film dokumenter.

Ia mengupas tuntas proses di balik layar, mulai dari riset lapangan yang mendalam, pencarian sudut pandang (angle) cerita, hingga tantangan teknis dalam merekam realitas tanpa merekayasa fakta.

"Membuat film dokumenter bukan sekadar merekam gambar, tetapi bagaimana kita bisa memindahkan kejujuran sebuah peristiwa ke dalam layar agar penonton bisa ikut merasakannya," papar Febfi di hadapan para peserta yang hadir.

Setelah mendapatkan suntikan ilmu dari sesi talkshow, antusiasme penonton semakin memuncak saat acara dilanjutkan dengan sesi screening atau pemutaran karya. Deretan film dokumenter terpilih yang telah berhasil melewati ketatnya tahap penjurian, akhirnya ditayangkan di hadapan audiens. Suasana hangat dan decak kagum menyelimuti ruangan saat pesan-pesan kuat dari setiap realitas sosial yang diangkat berhasil tersampaikan dengan apik melalui layar lebar.

Memasuki puncak acara, suasana semakin semarak dengan digelarnya sesi penganugerahan (awarding) kepada para pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan oleh dewan juri. Penghargaan tersebut diberikan dalam empat kategori utama sebagai bentuk apresiasi atas kualitas dan keunggulan masing-masing karya film dokumenter.

Berikut adalah deretan pemenang pada Frame Festival 2026:

Best Story Telling: Berhasil diraih oleh film "Are We Still Friends" karya Asaloka Films, yang dinilai sukses menyajikan alur narasi yang kuat dan menggugah emosi penonton.

Best Social Impact: Dianugerahkan kepada dokumenter "Dari Murid untuk Murid" besutan Multimedia Pondok Pabelan atas pesan dan dampak sosialnya yang dinilai sangat relevan dengan isu masa kini.

Best Cinematography: Jatuh kepada "Pusara Bercerita" karya Ruang Ria Creative House, yang berhasil memukau juri melalui tata kamera dan estetika visual yang menawan.

Best Director: Disabet oleh sutradara di balik dokumenter "Melak Harapan" produksi GR Production House, yang membuktikan kepiawaiannya dalam mengarahkan seluruh elemen produksi secara holistik.

Secara keseluruhan, acara Frame Festival 2026 berjalan dengan sangat meriah dan penuh suka cita. Sebagai bentuk selebrasi atas kerja keras seluruh sineas, peserta, dan panitia yang terlibat, acara bergengsi ini pun ditutup dengan sesi foto bersama. Melalui ajang ini, diharapkan semangat para sineas muda tidak pernah padam untuk terus mendokumentasikan kepingan realitas menjadi karya yang bermakna.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |