Konflik AS-Israel-Iran Ancam Rantai Pasok Global dan Ekonomi Indonesia

3 days ago 8

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta retaliasi lanjutan berpotensi mengganggu jalur distribusi rantai pasok global dan mendorong kenaikan harga komoditas energi. Jika eskalasi meluas dan melibatkan negara-negara besar lainnya, kondisi tersebut dapat mendestabilisasi ekonomi global.

Dewan Penasihat CILT Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan operasi militer besar (major combat operations) yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia. Dari sisi logistik dan rantai pasok global, gangguan dipastikan terjadi jika perdamaian tidak segera terwujud di Timur Tengah.

“Eskalasi konflik ini langsung memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara. Terlebih, retaliasi Iran saat ini melakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara,” ujar Yukki dalam keterangan tertulis, Ahad (1/3/2026).

Sebagai informasi, dampak langsung serangan militer di Timur Tengah terlihat pada kenaikan harga minyak WTI dan Brent yang masing-masing menyentuh 67 dolar AS dan 72,8 dolar AS pada Sabtu (28/2).

Setidaknya terdapat enam negara utama eksportir minyak yang akan terdampak langsung jalur distribusinya apabila Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi militer, yakni Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Qatar, serta Iran sendiri. Sebaliknya, negara-negara pengimpor seperti India, China, Jepang, dan kawasan Asia Tenggara juga berpotensi terdampak akibat disrupsi pasokan dari negara-negara tersebut.

Yukki menilai eskalasi konflik Timur Tengah akan mendorong inflasi harga energi lebih tinggi, menekan daya beli masyarakat, menahan penurunan suku bunga global, melemahkan kepercayaan pasar, bahkan menggerus ketahanan fiskal berbagai negara.

“Sepanjang 2025 lalu, ekonomi global sudah penuh tekanan, khususnya akibat guncangan tarif dagang AS. Jika konflik ini berkepanjangan, pelemahan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara berpotensi terjadi akibat kenaikan harga energi dan ongkos logistik,” ujarnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |