REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat-saat dalam hidup ketika manusia merasa begitu sendirian. Di tengah keramaian, ia merasa tidak memiliki siapa-siapa. Di tengah banyaknya pertemanan, ia tidak menemukan tempat bersandar.
Ketika badai datang, satu per satu yang dulu berjanji akan tetap tinggal mulai menjauh. Saat itulah manusia menyadari bahwa tidak semua tangan yang menggenggam akan bertahan, tidak semua bahu yang menjanjikan keteguhan akan tetap ada.
Pada saat seperti itulah Alquran menghadirkan sebuah ayat yang bukan hanya memberi petunjuk, tetapi juga ketenangan.
اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ
Innamā waliyyukumullāhu wa rasūluhū wal-lażīna āmanul-lażīna yuqīmūnaṣ-ṣalāta wa yu'tūnaz-zakāta wa hum rāki‘ūn(a).
"Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah)." (QS Al-Maidah: 55)
Ayat ini seakan datang untuk meluruskan arah hati yang terlalu sering menggantungkan harapan kepada manusia. Allah tidak mengatakan bahwa manusia tidak membutuhkan sesama. Allah tidak melarang kita mencintai, mempercayai, atau hidup berdampingan dengan orang lain. Namun Allah mengingatkan bahwa sandaran tertinggi bukanlah manusia yang lemah dan berubah-ubah. Sandaran tertinggi adalah Dia yang tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Betapa sering kita merasa hancur karena pengkhianatan manusia, padahal sejak awal kita meletakkan harapan pada tempat yang salah.
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata waliyyukum, pelindungmu, penolongmu, penjagamu. Sebuah kata yang menghadirkan rasa aman. Seolah Allah sedang berkata kepada hati yang lelah, "Engkau tidak sendiri. Ada Aku yang menjagamu. Ada Rasul-Ku yang menunjukkan jalan untukmu. Dan ada orang-orang beriman yang akan menjadi saudaramu dalam perjuangan."
Bukankah itu yang sebenarnya dicari setiap manusia?
Kita mencari seseorang yang tidak meninggalkan ketika keadaan sulit. Kita mencari tempat pulang ketika dunia terasa terlalu keras. Kita mencari tangan yang tetap menggenggam ketika semua yang lain melepaskan. Dan Allah menjawab pencarian itu bukan dengan janji kekayaan, bukan dengan jaminan kekuasaan, tetapi dengan sebuah ikatan yang jauh lebih kokoh: ikatan iman.
Karena orang-orang beriman yang digambarkan dalam ayat ini bukanlah mereka yang sekadar mengaku beriman dengan lisan. Mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat ketika yang lain lalai. Mereka tetap menunaikan zakat ketika sebagian manusia sibuk menumpuk harta. Mereka tunduk kepada Allah ketika kesombongan begitu mudah tumbuh di dalam dada.
.png)
1 hour ago
2

















































