Kepala BGN Evaluasi Menu MBG Ramadhan, Janjikan Kualitas Terjada

4 days ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR —  Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan komitmen pemerintah dalam memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan sesuai standar selama bulan Ramadhan. Ia menekankan, intervensi gizi tidak boleh mengalami penurunan kualitas hanya karena adanya penyesuaian waktu makan.

BGN merupakan lembaga baru dengan mandat khusus melakukan intervensi pemenuhan gizi nasional. Presiden memberikan perhatian besar terhadap isu ini, terutama dalam memastikan kualitas tumbuh kembang anak sejak 1.000 hari pertama kehidupan hingga fase krisis kedua pada usia 8–18 tahun.

Saat ini, program MBG menyasar sekitar 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, balita, anak sekolah hingga santri. Pemerintah memproyeksikan jumlah penduduk usia produktif mencapai 324 juta jiwa pada 2040. Tanpa intervensi gizi yang tepat, generasi mendatang dikhawatirkan menghadapi tantangan serius dalam aspek kesehatan dan kecerdasan.

Dadan menegaskan, angka kecukupan gizi pada menu Ramadhan harus tetap sama dengan hari biasa. “Ahli gizi menghitung kadar gizinya. Tidak boleh turun hanya karena Ramadhan,” ujarnya usai melakukan kunjungan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sabtu, (28/2/2026) di Cibuluh Bogor, Jawa Barat.

Penyesuaian dilakukan pada bentuk dan penyajian, bukan pada kandungan nutrisi. Menu dirancang berbasis sumber daya dan kearifan lokal agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Kearifan Lokal Diperkuat, Kualitas Dijaga

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, mitra MBG menghadirkan puding berbasis ubi sebagai alternatif pangan lokal bernutrisi. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya penguatan ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan komoditas daerah.

Namun demikian, BGN mengingatkan agar kualitas bahan tetap terjaga. Jika buah yang diterima dalam kondisi kurang baik, mitra diminta tidak memaksakan pengiriman. “Lebih baik disusulkan daripada dikirim dalam kondisi tidak layak,” kata Dadan.

Penyesuaian komposisi menu juga diperbolehkan selama nilai gizinya tetap terpenuhi. Misalnya, mengganti kacang yang harganya melonjak dengan dua butir telur guna memastikan kecukupan protein.

Selain kandungan gizi, aspek tampilan dan kebersihan turut menjadi perhatian. BGN meminta mitra tidak lagi menggunakan kantong plastik dan beralih ke kemasan box yang lebih layak dan higienis.

Menurut Dadan, penyajian yang baik bukan sekadar soal estetika, melainkan bagian dari edukasi pola makan sehat dan bermartabat bagi generasi muda. “Program ini bukan hanya soal memberi makan, tetapi membangun kualitas manusia Indonesia menuju 2040,” tegasnya.

Melalui evaluasi berkala, BGN memastikan MBG tetap menjadi instrumen strategis pemerintah dalam menyiapkan generasi unggul, termasuk di bulan suci Ramadhan. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |