Kemenperin Genjot Hilirisasi Susu di Tengah Ketergantungan Impor 80 Persen

5 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri susu nasional melalui percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas bahan baku, pengembangan inovasi produk, serta penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku susu yang masih mendominasi kebutuhan industri dalam negeri.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan susu merupakan komoditas strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Menurut Agus, pengembangan industri susu nasional masih memiliki peluang yang sangat besar. Hal itu terlihat dari tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

"Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan data World Population Review 2022, konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Di sisi lain, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional saat ini mencapai sekitar 5 juta ton setara susu segar per tahun. Namun, sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menilai penguatan pasokan susu segar dalam negeri menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Menurut dia, sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat agar tercipta ekosistem industri persusuan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

"Penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri melalui program kemitraan menjadi salah satu kunci utama. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan," kata Putu.

Sebagai bagian dari penguatan sektor hulu, Kemenperin telah mendorong peningkatan kualitas susu segar melalui penyediaan teknologi cooling unit dan digitalisasi di Tempat Penerimaan Susu (TPS). Hingga 2024, program digitalisasi tersebut telah diterapkan pada 96 TPS yang berada di bawah sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta melibatkan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah.

Kemenperin juga mengembangkan aplikasi pemantauan pasokan susu segar dalam negeri yang digunakan untuk memonitor ketersediaan bahan baku industri. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat transparansi rantai pasok industri susu nasional.

Selain penguatan pasokan, pemerintah juga mendorong investasi melalui Program Restrukturisasi Mesin dan atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman. Program tersebut memberikan fasilitas penggantian sebagian biaya investasi hingga 35 persen untuk pembelian mesin dan peralatan baru bagi industri pengolahan susu maupun koperasi dan kelompok peternak yang menjadi mitra industri.

Putu menambahkan, meningkatnya pendapatan masyarakat, tren gaya hidup sehat, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diyakini akan menjadi katalis bagi pertumbuhan industri susu nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut dia, peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas produksi dan pasokan bahan baku dalam negeri agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak dan pelaku industri nasional.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |