REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat dalam hidup ketika seseorang telah menyampaikan semua yang perlu disampaikan. Ia telah menasihati dengan kelembutan, mengingatkan dengan kasih sayang, menjelaskan dengan kesabaran, bahkan menanggung kesalahpahaman dan penolakan.
Namun manusia tetaplah manusia. Tidak semua hati terbuka pada saat yang sama. Tidak semua telinga siap mendengar kebenaran ketika kebenaran itu datang.
Pada titik itulah, lelaki mukmin dari keluarga Fir'aun mengucapkan kalimat yang abadi. Kalimat yang lahir bukan dari keputusasaan, melainkan dari puncak keyakinan.
فَسَتَذْكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمْ ۚ وَأُفَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ
Fasatażkurụna mā aqụlu lakum, wa ufawwiḍu amrī ilallāh, innallāha baṣīrum bil-'ibād.
"Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
Betapa tenangnya kalimat itu. Tidak ada amarah. Tidak ada kutukan. Tidak ada keinginan untuk membalas. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa suatu hari kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Suatu hari manusia akan memahami apa yang dahulu mereka abaikan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili, saat azab datang dan kenyataan tersingkap, mereka akan mengingat nasihat yang pernah disampaikan kepada mereka. Pada saat itu, semua penolakan dan kesombongan tidak lagi berguna.
Namun bagian yang paling menyentuh bukanlah peringatan itu. Yang paling menyentuh adalah kalimat setelahnya:
وَأُفَوِّضُ أَمْرِىٓ إِلَى ٱللَّهِ
"Aku menyerahkan urusanku kepada Allah."
Di sinilah letak kemuliaan seorang mukmin. Ia tetap berbicara ketika harus berbicara. Ia tetap berdiri ketika harus berdiri. Ia tetap menyampaikan kebenaran ketika kebenaran harus disampaikan. Tetapi setelah itu, ia tidak memikul sesuatu yang bukan menjadi tugasnya. Ia tidak memaksa hati manusia untuk berubah. Ia tidak mengendalikan hasil. Ia tidak menuntut dunia agar berjalan sesuai keinginannya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman As-Sa'di, kalimat itu berarti: aku bersandar kepada Allah, berlindung kepada-Nya, menyerahkan seluruh urusanku kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam segala kemaslahatan serta perlindungan dari segala bahaya.
Betapa banyak kegelisahan kita lahir karena ingin mengendalikan sesuatu yang memang tidak berada dalam genggaman kita.
Kita ingin usaha selalu berhasil, tulisan selalu diterima, orang yang kita cintai selalu mengerti, doa segera terjawab. Padahal mungkin Allah sedang mengajarkan satu pelajaran yang sama seperti yang diajarkan-Nya kepada lelaki mukmin itu: lakukan bagianmu, lalu serahkan sisanya kepada-Ku.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif. Lelaki mukmin itu terlebih dahulu menasihati, mengingatkan, memperingatkan, bahkan mengambil risiko besar dengan menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Setelah semua ikhtiar dilakukan, barulah ia berkata, "Aku menyerahkan urusanku kepada Allah."
Tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal adalah meninggalkan kecemasan setelah usaha.
Alasan mengapa ia mampu melakukan itu terdapat pada penutup ayat:
إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ
"Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
Allah melihat air mata yang tidak diketahui siapa pun, kelelahan yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata, niat yang tersembunyi di dalam hati, ketidakberdayaan seorang hamba ketika seluruh pintu dunia tampak tertutup.
.png)
10 hours ago
4
















































