Infaq dan Sedekah Hijau

10 hours ago 4

Oleh Royhan Mubarok, Pendiri Nurrohim Foundation

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah hiruk-pikuk perdebatan mengenai perubahan iklim, pemanasan global, dan krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan, dunia seakan sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada umat manusia: bumi sedang tidak baik-baik saja. Hutan-hutan terus berkurang, sungai-sungai tercemar, udara semakin kotor, dan bencana ekologis datang silih berganti tanpa mengenal batas wilayah maupun negara.

Indonesia pun tidak luput dari kenyataan tersebut. Kebakaran hutan, banjir bandang, tanah longsor, pencemaran sungai, hingga krisis air bersih menjadi pemandangan yang semakin sering dijumpai. Ironisnya, sebagian besar kerusakan tersebut bukanlah akibat proses alamiah semata, melainkan buah dari aktivitas manusia yang melampaui batas.

Dalam situasi seperti ini, berbagai solusi terus ditawarkan. Teknologi hijau dikembangkan, regulasi lingkungan diperketat, dan kampanye pelestarian alam digencarkan. Namun satu pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah krisis lingkungan hanya persoalan teknologi dan kebijakan?

Banyak pemikir berpendapat bahwa akar terdalam dari krisis ekologis sesungguhnya adalah krisis moral dan spiritual. Ketika manusia memandang alam semata-mata sebagai objek ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas, maka kerusakan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan.

Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting.

Islam dan Kesadaran Ekologis

Dalam pandangan Islam, hubungan manusia dengan alam tidak pernah bersifat eksploitatif. Al-Qur'an menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, yaitu pihak yang diberi amanah untuk menjaga, mengelola, dan memakmurkan bumi dengan penuh tanggung jawab.

Konsep ini jauh berbeda dengan paradigma modern yang sering menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas alam. Islam justru mengajarkan bahwa seluruh isi langit dan bumi adalah milik Allah Swt., sedangkan manusia hanyalah pemegang amanah sementara.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan apa yang dalam kajian kontemporer dikenal sebagai ekoteologi Islam, yaitu cara pandang yang menghubungkan keimanan kepada Allah dengan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari ibadah. Merusak alam berarti mengkhianati amanah Allah. Sebaliknya, melestarikan alam merupakan bentuk ketaatan kepada-Nya.

Membaca Ulang Makna Infaq dan Sedekah

Selama ini, ketika mendengar kata infaq dan sedekah, yang terlintas dalam benak kebanyakan umat Islam adalah bantuan kepada fakir miskin, pembangunan masjid, santunan anak yatim, atau bantuan pendidikan.

Semua itu tentu sangat mulia.

Namun, apakah makna infaq dan sedekah berhenti pada aspek sosial-ekonomi semata?

Pertanyaan inilah yang perlu direnungkan kembali.

Al-Qur'an berbicara tentang infaq dalam makna yang sangat luas, yaitu mengeluarkan sebagian harta di jalan Allah demi menghadirkan kemaslahatan. Sedangkan sedekah bukan hanya pemberian materi, tetapi segala bentuk kebaikan yang memberikan manfaat bagi makhluk Allah.

Bahkan Rasulullah SAW memberikan perspektif yang sangat menarik ketika beliau bersabda:

"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau pohon, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya."

Hadis ini menunjukkan bahwa aktivitas yang memberikan manfaat ekologis juga memiliki nilai sedekah.

Menanam pohon ternyata bukan hanya kegiatan lingkungan, tetapi juga ibadah.

Dari sinilah muncul gagasan yang kini mulai berkembang di berbagai negara Muslim, yaitu konsep Eco-Sadaqah atau Sedekah Hijau.

Sedekah yang Menumbuhkan Kehidupan

Sedekah hijau merupakan pengembangan filantropi Islam yang diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup.

Bentuknya dapat sangat beragam.

Menanam pohon untuk penghijauan.

Membangun sumur air bersih bagi masyarakat yang mengalami krisis air.

Mendanai konservasi hutan dan mangrove.

Mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Mengembangkan energi terbarukan bagi pesantren dan sekolah Islam.

Merehabilitasi sungai yang tercemar.

Semua aktivitas tersebut pada hakikatnya memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Lebih dari itu, manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi. Sebatang pohon yang ditanam hari ini bisa memberikan manfaat selama puluhan tahun. Sebuah sumur yang dibangun dapat mengalirkan kehidupan bagi ribuan orang. Sebuah kawasan hutan yang dipulihkan mampu menjadi warisan ekologis bagi generasi mendatang.

Bukankah ini sangat dekat dengan konsep sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir?

Potensi Besar Filantropi Islam

Indonesia memiliki potensi filantropi Islam yang luar biasa besar.

Dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang dihimpun setiap tahun mencapai angka yang sangat signifikan. Jika sebagian kecil saja dari dana tersebut diarahkan untuk program pelestarian lingkungan, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan bangsa.

Bayangkan apabila ribuan masjid di Indonesia memiliki program sedekah pohon.

Bayangkan apabila lembaga zakat memiliki program rehabilitasi sungai.

Bayangkan apabila dana filantropi Islam digunakan untuk mendukung energi bersih bagi pesantren dan madrasah.

Maka filantropi Islam tidak hanya mengurangi kemiskinan, tetapi juga membantu menyelamatkan bumi.

Menjadikan Lingkungan Sebagai Bagian dari Ibadah

Tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya ajaran Islam tentang lingkungan. Al-Qur'an dan Sunnah telah memberikan fondasi yang sangat kuat mengenai amanah manusia terhadap alam.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah pemahaman tersebut menjadi gerakan nyata.

Kesadaran ekologis harus menjadi bagian dari pendidikan Islam, dakwah, program masjid, hingga aktivitas lembaga filantropi.

Kita perlu mulai memandang bahwa menjaga lingkungan bukan agenda tambahan, melainkan bagian dari pengamalan ajaran Islam itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, bumi bukan warisan dari generasi terdahulu yang bebas kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita serahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam konteks itulah, infaq dan sedekah tidak hanya dapat mengenyangkan manusia yang lapar, tetapi juga dapat menghijaukan bumi yang mulai kehilangan keseimbangannya.

Dan mungkin, di tengah krisis lingkungan yang semakin berat, sedekah terbaik hari ini bukan hanya memberi kepada manusia, tetapi juga memberi kesempatan kepada alam untuk kembali hidup.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |