
Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Ketua Forum Peduli Indonesia Beradab
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika kita sepakat bahwa tauhid adalah fondasi bagi seluruh bangunan ekonomi Islam, maka pertanyaan yang layak diajukan sesungguhnya bukanlah tentang sistem, regulasi, maupun mekanika pasar. Pertanyaan pertama haruslah menukik lebih tajam yaitu “Mengapa kita merasa memiliki sesuatu begitu sangat kuat?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar ganjil. Bukankah kepemilikan adalah insting lumrah? Seseorang berhak menepuk dada dan berkata “ini milikku” karena ia telah memeras keringat untuk mendapatkannya, membelinya secara sah, dan menjaganya. Melalui kacamata hukum positif dan fikih muamalah, jawaban itu tidak keliru dan Islam mengakui hak kepemilikan individu secara legal. Namun, persoalan yang kita bedah di sini bukan soal legalitas formal, melainkan ontologi batin: mengapa rasa memiliki itu bisa bermutasi menjadi penjara bagi jiwa manusia?
Disinilah letak akar penyakitnya. Rasa memiliki perlahan bertransformasi menjadi keyakinan batin yang tak pernah lagi digugat. Kita tidak sekadar memakai harta, tetapi mulai menempelkan diri dan berilusi bahwa nilai kemanusiaan kita ditentukan oleh harta itu sendiri. Dari titik nadir inilah lahir berbagai patologi spiritual: kesombongan, kerakusan yang buas, ketakutan irasional terhadap kehilangan, kecemasan kronis akan masa depan, dan kekikiran.
Ketika seorang anak kecil yang sedang mendekap mainannya seraya berseru defensif, “Ini milikku!” hakikatnya bukan sekadar sebagai keegoisan balita, melainkan sebagai fase pembentukan kesadaran diri. Anak mulai mengenali bahwa ia adalah entitas yang terpisah dari orang lain, dan ia mencari batas dirinya melalui relasi dengan benda-benda di sekitarnya.
Tragisnya, gerak batin fundamental ini ternyata tidak sepenuhnya lekang saat manusia mendewasa. Mainan plastik itu hanya berganti wujud menjadi sertifikat rumah, kendaraan mewah, digit rekening, jabatan struktural, hingga portofolio investasi. Wujudnya berevolusi, tetapi dorongan batinnya stagnan: manusia terus-menerus mencari penegasan diri (self-validation) melalui apa yang ia kuasai.
Psikolog Russell Belk merumuskan fenomena ini sebagai extended self yaitu kondisi dimana manusia memperlakukan apa yang ia miliki sebagai perpanjangan dari eksistensi dirinya. Rumah tak lagi sekadar tempat berlindung, tetapi prasasti tentang siapa kita. Kendaraan bukan sekadar alat mobilitas, melainkan panggung pamer status sosial. Harta telah naik derajat dari sekadar alat menjadi sebuah identitas.
Itulah mengapa ketika seseorang kehilangan harta terasa begitu merobek kewarasan. Ketika sebuah bisnis kolaps atau aset disita, rasa sakit yang timbul sering kali melampaui nilai ekonominya. Mengapa? Karena yang terluka bukanlah portofolio finansialnya, melainkan fondasi harga dirinya. Harta telah berubah menjadi sandaran eksistensial, sehingga ancaman terhadap harta dibaca oleh alam bawah sadar sebagai ancaman terhadap eksistensi diri itu sendiri.
Kemusyrikan Halus dan Zakat sebagai Pembebasan
Uang memang krusial, tabungan adalah penyangga, dan perencanaan finansial adalah ikhtiar yang rasional. Namun, bencana spiritual terjadi ketika fungsi praktis harta bermutasi menjadi penjamin mutlak kehidupan.
Secara lahiriah, seseorang mungkin terlihat saleh. Ia menjaga shalat dan melisankan asma Allah. Namun secara batin, rasa amannya tidak lagi tertambat pada Allah sebagai Ar-Razzaq (Sang Maha Pemberi Rezeki). Kepercayaan dirinya justru bertumpu pada deretan angka, cadangan aset, dan kalkulasi manusiawi yang ia kendalikan. Harta mengambil alih singgasana yang seharusnya hanya ditempati oleh Tawakkal. Inilah mengapa keterikatan buta pada harta bukan sekadar krisis moral, melainkan krisis teologis yang menodai wilayah tauhid.
Pada sisi yang lain, kesulitan manusia modern untuk berbagi juga berakar dari titik yang sama. Ketika harta terlanjur menyatu menjadi identitas, melepaskannya akan terasa bagai memutilasi diri sendiri. Oleh karena itu, syariat zakat dan sedekah dalam Islam tidak boleh direduksi sekadar sebagai instrumen distribusi kekayaan makro. Zakat adalah laku pembebasan jiwa; sebuah terapi spiritual agar manusia tidak memberhalakan harta sebagai pusat keselamatan.
Setiap kali kita bersedekah dengan ikhlas, kita sedang mendidik batin untuk memproklamirkan satu kebenaran absolut: Aku bukan pemilik mutlak, aku hanyalah seorang kasir Tuhan yang dititipi amanah. Itulah mengapa janji Nabi SAW bahwa “Harta tidak akan berkurang karena sedekah” bukan sekadar garansi balasan ukhrawi, melainkan jaminan akan datangnya ketenangan batin.
Menggenggam Lebih Lembut
Budaya modern hari ini sangat mendewakan individualisme. Slogan “Uangku, aturanku; hartaku, hakku sepenuhnya” telah menempatkan manusia sebagai pusat kedaulatan atas alam semesta. Al-Qur’an datang untuk menghancurkan arogansi ini melalui deklarasi bahwa “Milik Allah-lah segala yang di langit dan di bumi”. Ini bukanlah satu bentuk puitisasi religius, melainkan fondasi ontologis. Secara hakiki, status manusia hanyalah pengelola bukan pemilik. Hari ini harta itu berada di tangan kita, besok ia bisa menguap atau berpindah ke tangan yang lain.
Tauhid tidak pernah melarang manusia bekerja keras, membangun gurita bisnis, atau merancang kemapanan finansial. Islam tidak memusuhi produktivitas dan kemakmuran, tetapi yang dihancurkan oleh tauhid adalah ilusi dan kesombongan di dalam dada yang menganggap bahwa harta adalah sumber kemuliaan. Tauhid membebaskan manusia dari kecemasan akan hari esok, sebab seorang mukmin sadar penuh: ikhtiar adalah kewajibannya, namun jaminan rezeki adalah prerogatif Tuhannya.
Seorang mukmin sejati tahu bagaimana menempatkan dunia. Ia menggenggam harta tanpa membiarkan harta itu mencekik lehernya. Tangannya boleh penuh dengan emas, namun hatinya tetap lapang. Ia tidak menitipkan seluruh harga dirinya pada apa yang ia pakai, dan tidak menaruh seluruh rasa amannya pada apa yang ia simpan.
Kegelisahan masyarakat modern sering kali tidak bersumber dari kurangnya harta, melainkan dari rasa memiliki yang terlalu besar. Kita terlalu erat mencengkeram apa yang sejatinya hanya titipan sementara. Kita kelelahan karena memaksakan yang fana menjadi abadi. Mungkin sudah waktunya kita belajar menggenggam dunia ini dengan lebih lembut.
Wallahu a‘lam.
.png)
16 hours ago
5
















































