Harga minyak mentah menguat pada Kamis (27/2/2025) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut izin Chevron untuk mengekspor minyak mentah dari
Harga Minyak Naik Usai AS Cabut Izin Chevron di Venezuela. (Foto: Reuters)
IDXChannel - Harga minyak mentah menguat pada Kamis (27/2/2025) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut izin Chevron untuk mengekspor minyak mentah dari Venezuela.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik USD1,29 atau 1,87 persen menjadi USD70,12 per barrel, bangkit dari level terendah sejak 10 Desember 2024. Sementara itu, minyak Brent naik USD1,11 atau 1,54 persen menjadi USD73,42 per barrel.
Mengutip MT Newswires, Trump pada Rabu (26/2) membatalkan izin yang sebelumnya diberikan kepada Chevron untuk beroperasi di Venezuela. Menurut Reuters, perusahaan tersebut mengekspor sekitar 240.000 barrel per hari dari negara Amerika Selatan itu.
Izin tersebut diberikan pada November 2022 di era Presiden Joe Biden untuk menambah pasokan di tengah lonjakan harga minyak dan bensin, meskipun ada kekhawatiran mengenai rezim otoriter Nicolas Maduro.
Menurut laporan Wall Street Journal, penolakan Maduro menerima deportan dari AS juga memperburuk hubungan Washington dengan Caracas.
Pencabutan izin Chevron membuat perusahaan itu tidak lagi bisa mengekspor minyak Venezuela. Jika perusahaan minyak negara PDVSA mengekspor minyak yang sebelumnya dijual Chevron, kilang AS tidak akan dapat membelinya karena terkena sanksi.
"Keluarnya Chevron bisa menurunkan produksi Venezuela, memberi ruang bagi OPEC+ untuk meningkatkan produksi. Jika ini terjadi, kilang AS di pesisir berpotensi menanggung biaya pengadaan yang lebih tinggi," kata analis TD Cowen dalam catatan.
Jika OPEC+ tidak meningkatkan pasokan, harga minyak berat berkandungan sulfur tinggi (heavy sour) bisa naik, yang akan membebani kilang AS.
"Menurut saya, dengan Brent masih di sekitar USD75 per barrel, OPEC+ akan menunda pemulihan pemangkasan produksi sukarela setidaknya hingga akhir April, bahkan mungkin hingga akhir kuartal kedua," kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow.
Keputusan Trump tersebut memperketat pasar yang sebelumnya fokus pada peningkatan pasokan, seiring rencana OPEC+ untuk mulai mengembalikan pemangkasan produksi 2,2 juta barrel per hari pada April. Pasokan dari Kanada, AS, dan negara Amerika Selatan lainnya juga meningkat.
Prospek keberhasilan pembicaraan damai yang mengakhiri perang Rusia-Ukraina, yang berpotensi mencabut sanksi ekspor minyak Rusia, turut menekan harga.
"Kemajuan pembicaraan damai Ukraina tanpa kehadiran Ukraina dan pemulihan kerja sama ekonomi antara bekas musuh akan berdampak nyata pada pasokan minyak," ujar PVM Oil Associates.
"Pasar lebih menyukai kejelasan ketimbang ketidakpastian. Tanpa jalur yang jelas mengenai tarif dan perdamaian Eropa Timur, harga minyak cenderung bertahan di posisi defensif dengan reli sesekali yang dipicu berita utama," kata analis PVM, Tamas Varga. (Aldo Fernando)