Harga minyak ditutup menguat pada Selasa (25/3/2025) seiring dorongan awal dari tarif AS terhadap pembeli minyak Venezuela mulai melemah.
Harga Minyak Naik, Kesepakatan Rusia-Ukraina Imbangi Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Freepik)
IDXChannel - Harga minyak ditutup menguat pada Selasa (25/3/2025) seiring dorongan awal dari tarif AS terhadap pembeli minyak Venezuela mulai melemah.
Selain itu, kesepakatan antara Rusia dan Ukraina di sektor maritim dan energi meredam kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan global akibat ancaman tarif AS terhadap negara-negara yang membeli minyak Venezuela.
Kontrak berjangka Brent naik 0,15 persen menjadi USD 72,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,13 persen ke USD 69,21 per barel.
Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan dengan Ukraina dan Rusia untuk menghentikan serangan di laut serta terhadap infrastruktur energi. Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington berjanji mendorong pencabutan beberapa sanksi terhadap Moskow.
Baik Kyiv maupun Moskow menyatakan bahwa mereka akan mengandalkan Washington untuk menegakkan kesepakatan ini, meskipun keduanya masih skeptis apakah pihak lawan akan benar-benar mematuhinya.
"Jika ada gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, itu bisa membuka peluang bagi pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia," kata analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn.
Di sisi lain, ancaman tarif dari Trump terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dan gas dari Venezuela menimbulkan kekhawatiran pasokan. Kedua acuan harga minyak naik lebih dari 1 persen pada Senin setelah pengumuman tersebut.
"Tarif sekunder ini merupakan sanksi tidak langsung yang bertujuan untuk melemahkan kapasitas pasokan minyak Venezuela serta merugikan sistem kilang kecil independen di China," kata kepala pasar komoditas global di Rystad Energy, Mukesh Sahdev.
Minyak adalah ekspor utama Venezuela, sementara China—yang sudah menjadi target tarif impor AS—merupakan pembeli terbesar minyak negara itu.
"Ancaman tarif ini menimbulkan ketidakpastian baru terhadap keandalan pasokan global," kata Sahdev.
Namun, ia menambahkan bahwa momentum kenaikan harga minyak tertahan oleh rencana OPEC+ untuk melonggarkan pembatasan produksi mulai April, sehingga pasokan tambahan masih tersedia jika dibutuhkan.
Pemerintahan Trump pada Senin juga memperpanjang tenggat waktu hingga 27 Mei bagi Chevron untuk menghentikan operasinya di Venezuela.
Menurut analis ANZ, pencabutan izin Chevron untuk beroperasi di negara itu dapat memangkas produksi minyak Venezuela sekitar 200.000 barel per hari.
Pekan lalu, AS juga mengeluarkan sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Iran.
Sementara itu, empat sumber Reuters menyebutkan bahwa OPEC+, yang mencakup negara-negara pengekspor minyak utama serta Rusia, kemungkinan tetap berpegang pada rencana untuk meningkatkan produksi pada Mei untuk bulan kedua berturut-turut.
Keputusan ini didasarkan pada stabilnya harga minyak serta upaya menekan beberapa anggota agar mengurangi produksi guna mengompensasi kelebihan pasokan sebelumnya. (Aldo Fernando)