Cadangan Devisa Menyusut dan Rupiah Melemah, Minat Masyarakat pada Emas Meningkat

13 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan menurunnya cadangan devisa Indonesia mendorong masyarakat semakin melirik emas sebagai instrumen penyimpan nilai. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS), logam mulia dinilai menjadi salah satu aset yang mampu menjaga daya beli masyarakat.

Cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026 dari posisi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026. Di saat yang sama, rupiah juga menghadapi tekanan akibat sentimen eksternal, termasuk penguatan dolar AS dan kenaikan harga energi global.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga emas di pasar domestik. Sebab, harga emas yang diperdagangkan dalam dolar AS akan menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah saat nilai tukar melemah.

Berbagai pengamat pasar menilai pergerakan harga emas di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni harga emas global dan nilai tukar rupiah. Kenaikan salah satu faktor saja sudah dapat mendorong harga emas dalam negeri, terlebih jika keduanya bergerak searah.

Bagi masyarakat, fenomena ini terasa nyata dalam aktivitas menabung maupun investasi. Dengan jumlah dana yang sama, pembelian emas kini membutuhkan lebih banyak rupiah dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.

Selain faktor kurs, penyusutan cadangan devisa juga menjadi perhatian pelaku pasar. Cadangan devisa dipandang sebagai salah satu indikator kemampuan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan menghadapi gejolak eksternal.

Meski demikian, Bank Indonesia sebelumnya menegaskan posisi cadangan devisa masih berada pada level yang memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Di pasar global, harga emas juga masih mendapat dukungan dari tingginya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Logam mulia secara tradisional dianggap sebagai aset aman atau safe haven ketika pasar keuangan menghadapi tekanan.

Di sisi lain, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi membatasi kenaikan harga emas global. Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan kedua faktor tersebut secara bersamaan.

Bagi masyarakat Indonesia, emas masih menjadi instrumen investasi yang mudah dipahami dan telah lama digunakan sebagai sarana menabung maupun perlindungan nilai kekayaan. Selain untuk investasi, emas juga kerap dimanfaatkan sebagai dana darurat dan perencanaan keuangan jangka panjang.

Di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, permintaan terhadap emas diperkirakan tetap terjaga. Selama volatilitas pasar keuangan masih tinggi, emas dinilai akan tetap menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk melindungi nilai aset mereka.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |