Buka Rakernas ISKI, Kemenkomdigi: AI Jadi Tantangan Keilmuan Komunikasi

5 hours ago 2

Direktur Jenderal Komunikasi dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Fifi Aleyda Yahya menerima cinderamata dari Wakil Rektor Universitas Esa Unggul Pawenary yang disaksikan Ketua Umum ISKI Atwar Bajary.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Jenderal Komunikasi dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Fifi Aleyda Yahya, mengingatkan masyarakat menghadapi paradoks besar di era digital. Di satu sisi publik semakin cerdas dan informatif, namun di sisi lain juga semakin mudah menjadi konsumen informasi yang belum tentu valid.

"Apakah kita mempunyai waktu untuk melakukan verifikasi informasi? Apakah informasi yang kita terima sudah valid atau sebaliknya? Ada yang suka mengirim informasi yang belum jelas, tetapi kemudian menjadi bahan yang dipercaya. Ini merupakan paradoks besar era digital dan informasi saat ini yang berkembang luar biasa," kata Fifi dalam Rapat Kerja Nasional Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) 2026 bertema Menguatkan Ekosistem Komunikasi Indonesia untuk Membangun Kepercayaan Publik di Era AI dan Disinformasi di Kemala Ballroom Universitas Esa Unggul, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurut Fifi, fenomena tersebut membuat banyak orang merasa telah mengetahui suatu persoalan, padahal informasi yang diterima sering kali hanya sebagian dan tidak utuh.

"Saat ini publik cerdas dan informatif, tetapi di sisi lain mudah menjadi konsumen informasi yang belum tentu valid. Ada orang yang merasa sudah tahu, padahal informasi yang didapat ternyata hanya sebagian dan tidak lengkap," ujarnya.

Fifi mengungkapkan, tantangan tersebut tercermin dari tingginya jumlah konten negatif yang ditangani Komdigi sepanjang tahun ini. Dari Januari hingga Mei 2026, Komdigi telah menangani sekitar 235 ribu konten negatif, dengan sekitar 1.400 konten di antaranya merupakan hoaks dan disinformasi.

"Angka ini menunjukkan kualitas ruang dan ekosistem informasi kita menjadi tantangan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak," kata dia.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memperumit persoalan informasi karena mampu menghasilkan konten yang sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi.

"Saat ini kita berada di era artificial intelligence. Ini merupakan teknologi yang membuat kehidupan menjadi lebih efisien dan mudah. Namun AI juga menghasilkan kebenaran dan hoaks yang sulit dibedakan. Yang bicara itu AI atau orang?" ujarnya.

Fifi menegaskan AI bukan hanya persoalan teknologi, melainkan juga tantangan sosial sekaligus tantangan keilmuan komunikasi yang harus dihadapi bersama. Menurut dia, perubahan lanskap komunikasi saat ini berbeda jauh dibanding masa lalu ketika informasi didominasi media arus utama.

"Dulu sumber informasi berasal dari media mainstream. Sekarang berbeda. Setiap orang bisa menjadi pemberita dan dengan mudah merekam serta menyebarkan berbagai peristiwa yang ada di sekitarnya," katanya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |