Arkeolog Prancis Tolak Klaim Lukisan Gua Tertua dari Indonesia, Tuding Ada Persoalan Metodologi

7 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Arkeolog Prancis, Georges Sauvet, bikin heboh dunia riset dengan menolak klaim lukisan gua tertua di dunia berasal dari Indonesia. Lukisan gua yang dimaksud adalah lukisan cap tangan yang berada di Leang Metanduno, Kabupaten Maros, yang diperkirakan berusia 71 ribu tahun yang lalu sampai 67 ribu tahun yang lalu. Sauvet mempermasalahkan metodologi penentuan umur lukisan tersebut, yang menurutnya bias dan amat bisa salah, serta belum diuji dengan metode lain.

Hal ini Sauvet sampaikan dalam artikel ilmiah nya berjudul 'Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art'. Artikel ini diterbitkan di Aplomb Publication, AOJ of Historarchaeology & Anthropological Exploration Volume 2 Issue 1 - 2026, pada 20 Mei lalu. Sauvet menulis di bagian awal sebagai berikut:

Dalam beberapa tahun terakhir, metode penanggalan uranium-thorium terhadap lapisan kalsit yang menutupi gambar-gambar prasejarah di dinding gua menghasilkan estimasi usia yang semakin tua. Namun, metode ini memiliki kelemahan karena mengandung potensi bias yang cenderung membuat usia sampel tampak lebih tua daripada kondisi sebenarnya.

Masalahnya, bias tersebut tidak mudah terdeteksi sehingga banyak peneliti menerima hasil penanggalan yang sangat tua itu tanpa menguji kembali validitasnya secara kritis."

Karena itu, kehati-hatian menjadi hal yang mutlak. Setiap sampel perlu melalui analisis fisikokimia secara menyeluruh serta diverifikasi melalui penanggalan silang (cross-dating) menggunakan metode karbon-14 atau metode lain yang relevan pada sampel yang sama. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa hasil penanggalan yang diperoleh benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sebelumnya, dalam paparan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis (22/1/2026) Ahli arkeologi dan geokimia dari Griffith University dan Southern Cross University, Prof Maxime Aubert menyampaikan temuan penanggalan gambar cadas atau rock art di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Dalam paparannya, Prof Maxime menjelaskan secara rinci bagaimana ilmuwan memastikan umur lukisan prasejarah tersebut. Untuk mengetahuinya, dia memakai teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.

Menurut Prof Maxime, prinsip penanggalan seni cadas sebenarnya sederhana, namun sangat presisi. Prosesnya amat menarik. Berawal dari air hujan yang meresap ke dalam batu kapur gua.

“Air hujan meresap melalui batu kapur, melarutkan sedikit kalsium dan uranium. Ketika air mengalir di atas permukaan seni cadas, air itu mengendap dan membentuk lapisan tipis di atas lukisan,” jelas Maxime.

Lapisan tipis kalsit inilah yang menjadi kunci. Di dalamnya terkandung uranium yang seiring waktu meluruh menjadi thorium. Dengan membandingkan jumlah atom uranium dan thorium, para peneliti dapat menghitung kapan lapisan itu terbentuk.

“Jika lapisan itu berada di atas lukisan, maka itu memberi kita usia minimum. Artinya lukisan setidaknya setua lapisan tersebut. Jika lapisannya berada di bawah, itu memberi usia maksimum,” kata Maxime.

Analogi sederhananya adalah seperti 'kue lapis'. Bila lukisan gua adalah lapisan terbawah dari satu kue lapis, maka endapan-endapan air dan kapur di gua itu adalah lapisan demi lapisan di atas lapisan terbawah itu. Di dalam lapisan itu terkandung uranium yang meluruh menjadi thorium dalam jangka waktu tertentu. Peneliti kemudian menghitung jumlah atom uranium dan thorium dari 'kue lapis' itu.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |