Semarak Gema Allahu Akbar di Timur Indonesia

11 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit malam menyimpan cerita yang sama dari Sabang hingga Merauke. Dari sudut-sudut gang yang sempit hingga lapangan-lapangan yang luas, suara takbir bergema naik, menggetarkan dinding-dinding rumah, merambat di antara dedaunan, lalu terbang menembus awan.

Ini adalah malam ketika umat Islam di seluruh Indonesia mengumandangkan kebesaran Allah, sebagai puncak syukur setelah sebulan menahan lapar dan haus. Namun, cara merayakannya, dalam gemerlap pawai atau dalam hening yang khusyuk, menjadi cerita yang beragam, merefleksikan wajah Indonesia yang majemuk.

Di ujung timur Pulau Papua, Kota Timika larut dalam gemuruh warna. Ratusan umat Islam bersama puluhan kendaraan hias bernuansa islami memenuhi jalanan dalam pawai takbir keliling.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, melepas pawai Jumat malam itu dengan pesan yang menggugat batas: bahwa malam takbir adalah momentum ungkapan syukur atas pelaksanaan puasa selama satu bulan.

Ia menunjuk langsung pada partisipasi umat agama lain yang turut serta dalam iring-iringan. "Ini bentuk rasa toleransi, solidaritas, dan kebersamaan kita bahwa Mimika adalah kabupaten yang harmonis," ujarnya.

Ketua Panitia Hari Besar Islam Mimika, Joko Prianto, menambahkan bahwa takbir keliling bukan sekadar pawai, melainkan simbol persatuan, persaudaraan, dan pertalian yang erat seluruh warga Kota Timika. Ia menyebut penghargaan Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama RI sebagai bukti bahwa Mimika telah menjadi kota harmoni bagi seluruh umat beragama. "Malam ini kita buktikan bersama-sama bahwa takbir keliling tidak hanya diikuti oleh umat Islam, tetapi juga umat agama lain," katanya.

Di tengah kemeriahan itu, pesan keselamatan tetap digaungkan. Bupati Johannes berpesan agar seluruh peserta menjaga ketertiban. "Melaksanakan dengan tertib. Di dalam perjalanan selama takbir keliling ini, kita jaga keselamatan sehingga besok kita dapat menyambut hari raya Idul fitri," ujarnya.

Di sisi lain gugusan kepulauan Maluku, Ambon menyuguhkan kemeriahan yang tak kalah semarak. Ribuan warga turun memenuhi jalanan, mengubah ruas-ruas kota menjadi lautan manusia yang bergerak perlahan, diterangi oleh obor yang berkelap-kelip. Fadli, seorang warga yang mengikuti pawai obor di Jalan Tulukabessy, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Setiap tahun pasti ada takbiran keliling. Rasanya meriah sekali, apa lagi bisa kumpul dengan teman-teman sambil mengumandangkan takbir," katanya.

Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi sejumlah ruas jalan utama. Bendera Merah Putih berkibar berdampingan dengan bendera Palestina, sebuah simbol solidaritas yang kerap disuarakan dalam momentum-momentum keagamaan, mengingatkan bahwa kegembiraan di tanah air tak pernah lepas dari kepedulian terhadap saudara di tanah jauh.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |