Pasukan Israel berjaga-jaga di luar Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat.
REPUBLIKA.CO.ID, HEBRON – Suasana di dalam Masjid Ibrahimi, Hebron, Palestina yang diduki, dilaporkan berada dalam kondisi paling memprihatinkan sejak tragedi pembantaian jamaah sholat Subuh oleh pemukim Israel pada 1994 silam. Memasuki bulan Ramadhan 1447 H/ 2026 ini, pembatasan ketat dari penjajah Israel perlahan-lahan mengikis identitas keislaman di situs suci Tepi Barat tersebut.
Tragedi 32 tahun lalu, di mana puluhan warga Palestina tewas saat menunaikan sholat, menjadi titik balik bagi penjajah untuk memperketat kendali atas masjid tersebut. Kini, tekanan terhadap jamaah dilaporkan semakin meningkat melalui berbagai regulasi administratif dan berbagai gangguan di lapangan.
Hosni al-Rajbi (74 tahun), salah satu penyintas dari 125 warga Palestina yang terluka dalam pembantaian tahun 1994, mengungkapkan, situasi saat ini terasa lebih berat dibandingkan tiga dekade lalu. Dengan bantuan tongkat kayu, ia tetap teguh menjalankan ibadah di masjid kuno tersebut meski dilingkupi rasa cemas.
"Waktu-waktu ini sangat sulit. Tekanan yang dirasakan masyarakat bahkan lebih buruk daripada masa setelah pembantaian," ujar Rajbi kepada Middle East Eye. Menurut dia, sholat Tarawih tahun ini diwarnai dengan kepedihan mendalam mengenai nasib Hebron dan Palestina secara keseluruhan.
Laporan di lapangan menunjukkan, hampir tidak ada jamaah yang bisa mencapai masjid akibat barikade dan pelecehan oleh petugas keamanan Israel. Selain akses fisik, kebutuhan dasar untuk menunjang ibadah selama bulan suci juga dilarang masuk.
Pasokan penting Ramadhan, seperti air dan kurma, dilaporkan ditahan di pintu masuk. Bahkan, peralatan kebersihan seperti penghisap debu mendapat pelarangan. Kebijakan penjajah ini menyulitkan staf masjid untuk menjaga kesucian ruang sholat. Tak hanya itu, beberapa imam pun dilaporkan dilarang total untuk memasuki kompleks masjid.
.png)
6 days ago
9















































