REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang kokoh, kehidupan di lembaga pemasyarakatan (Lapas) tetap berdenyut. Tidak pernah benar‑benar sunyi. Suara langkah kaki petugas yang disiplin, persiapan warga binaan untuk kegiatan harian, doa yang terucap lirih, atau percakapan pelan yang mengisi lorong‑lorong sel, semuanya menjadi simfoni kehidupan yang tak henti.
Lapas bukan sekadar ruang penghukuman. Ia adalah ruang jeda, di mana negara menguji makna pemasyarakatan: apakah benar‑benar menjadi jalan kembali bagi mereka yang tersesat, atau hanya ruang tunggu sebelum kembali ke masyarakat tanpa perubahan berarti?
Wajah Lapas kerap dipandang dengan mata tunggal, penuh sesak, rawan pelanggaran, jauh dari nilai kemanusiaan. Namun di balik stigma itu, di tengah tantangan klasik seperti kepadatan hunian dan keterbatasan fasilitas, upaya pembenahan terus berjalan. Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi contoh nyata, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Ramadhan 2026: Momentum Perubahan
Pada Ramadhan 2026, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan NTB membawa angin segar: layanan video call bagi warga binaan di seluruh Lapas dan Rutan. Inovasi ini merupakan pengembangan dari Warung Telekomunikasi Khusus Pemasyarakatan (Wartelsuspas), yang sebelumnya hanya menyediakan panggilan suara.
Kebijakan ini tidak lahir begitu saja. Ia berakar pada Undang‑Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang menjamin hak komunikasi warga binaan dengan keluarga maupun penasihat hukum.
Di Lapas Kelas IIA Lombok Barat, warga binaan memanfaatkan fasilitas ini secara bergiliran. Pada bulan suci, intensitas penggunaan meningkat. Durasi komunikasi diatur adil, agar setiap penghuni mendapat kesempatan melihat wajah orang tercinta.
Di Lapas Kelas IIB Dompu, layanan dioptimalkan setiap Senin hingga Jumat dalam dua sesi. Pendaftaran ketat dan pengawasan profesional dilakukan, serta setiap aktivitas dicatat untuk menjaga transparansi. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal hak asasi manusia yang diwujudkan nyata.
Dukungan Emosional: Lebih dari Sekadar Suara
Melihat wajah anak atau orang tua secara langsung, terutama pada Ramadhan, saat kerinduan menguat, memiliki efek psikologis yang tak tergantikan. Studi kriminologi membuktikan: keterhubungan dengan keluarga adalah faktor kunci untuk menurunkan risiko residivisme. Dukungan emosional menjaga stabilitas mental, menekan konflik, dan membangkitkan motivasi untuk berubah.
sumber : Antara
.png)
6 days ago
9















































