REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran mewarnai momentum Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini. Hal itu dinilai akan mempengaruhi momen musiman yang biasanya menjadi puncak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 mencapai 5,05 persen berkat faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriyah. “Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan sebesar 5,05 persen dipengaruhi faktor musiman Ramadhan-Lebaran,” ujar Bhima di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Pada dasarnya, kata Bhima, pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama 2026 mampu melampaui angka proyeksinya di 5,05 persen. Hanya saja, ia melihat terdapat beberapa tantangan yang membuat konsumsi rumah tangga relatif lebih terbatas.
Pemicu pertama yaitu keputusan masyarakat yang cenderung menahan uang tunjangan hari raya (THR) untuk dibelanjakan dan memilih mengalokasikannya sebagai tabungan. Kecenderungan itu kemungkinan besar dipengaruhi oleh kekhawatiran melonjaknya harga energi dan pangan usai Lebaran.
Sementara itu, belanja masyarakat yang tertahan berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi. Atas tantangan itu, Bhima menyarankan pemerintah untuk memperhatikan pengendalian inflasi pada periode mudik sehingga masyarakat lebih percaya diri membelanjakan THR mereka.
Faktor penghambat berikutnya yaitu arus balik masyarakat yang diperkirakan belum optimal lantaran lapangan pekerjaan di kota yang masih terbatas.
Biasanya, jelas Bhima, para pencari kerja memanfaatkan momen Idul Fitri untuk merantau ke kota. Oleh karena itu, Bhima mendorong pemerintah untuk lebih menggencarkan penciptaan lapangan kerja agar jumlah pemudik tumbuh lebih tinggi dan berkualitas.
Selain kedua tantangan tersebut, Bhima juga berpendapat pemerintah dapat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi pada musim Ramadhan dan Idul Fitri melalui dukungan terhadap sektor pariwisata.
“Secara musiman, mudik memberi dorongan ke sektor pariwisata. Namun, ke depan perlu promosi lebih gencar lagi ke destinasi wisata baru sehingga durasi tinggal lebih lama,” tutur dia.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tumbuh di kisaran 5,5 persen hingga 5,6 persen (year-on-year/yoy).
Target ini didorong oleh percepatan belanja negara, stimulus fiskal, dan penguatan daya beli masyarakat, khususnya di tengah periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Guna menjaga daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi, pemerintah telah meluncurkan paket stimulus ekonomi pada kuartal I 2026.
Salah satunya adalah insentif transportasi untuk mudik Lebaran berupa diskon tiket kereta api 30 persen, angkutan laut 30 persen, jasa penyeberangan 100 persen, serta potongan harga tiket pesawat 17–18 persen.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman memperkirakan momen Ramadhan dan Idul Fitri mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1–5,2 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026.
“Secara agregat, momentum Lebaran diperkirakan menambah sekitar 0,2–0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I,” kata Rizal.
Ia menjelaskan momentum Lebaran yang jatuh di awal tahun menciptakan efek front-loading, sehingga akselerasi pertumbuhan terkonsentrasi pada kuartal I.
Menurutnya, peningkatan belanja masyarakat didukung oleh pencairan tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial (bansos), serta stimulus mobilitas yang secara langsung mendorong konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB).
“Lonjakan konsumsi ini juga menghasilkan efek pengganda yang cukup luas, terutama pada sektor ritel, transportasi, akomodasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong redistribusi aktivitas ekonomi ke daerah selama periode mudik,” tambahnya.
Namun, Rizal menyoroti bahwa karakter dorongan pertumbuhan pada kuartal I relatif bersifat jangka pendek. Pasalnya, dorongan tersebut tidak diiringi peningkatan kapasitas produksi, sehingga lebih mencerminkan peningkatan utilisasi ekonomi dibandingkan perbaikan fundamental.
“Meski pertumbuhan kuartal I berpotensi terlihat kuat, terdapat risiko normalisasi pada periode berikutnya. Konsumsi Lebaran cenderung temporer dan berbasis faktor musiman, sehingga berpotensi diikuti perlambatan pascahari raya, khususnya pada kelompok menengah bawah,” jelas Rizal.
Oleh karena itu, kata dia, penting bagi pemerintah untuk memperkuat sumber pertumbuhan yang lebih struktural, terutama dari sisi investasi dan ekspor, agar pertumbuhan ekonomi dapat berkelanjutan.
“Penguatan sumber pertumbuhan yang lebih struktural menjadi krusial agar kinerja ekonomi tidak hanya kuat secara siklikal, tetapi juga solid dalam jangka menengah,” tuturnya.
.png)
5 hours ago
1
















































