Kekeringan Meluas, BMKG Sebut Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan

3 hours ago 2

Sejumlah warga mengisi air saat distribusi bantuan air di Desa Neglasari, RT 03/RW 02, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). Menurut warga setempat, krisis air telah terjadi sejak pertengahan Mei 2026 lalu akibat kekeringan pada musim kemarau

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menjelaskan keberhasilan OMC bergantung pada ketersediaan awan hujan yang dapat disemai.

Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG Supari mengatakan, BMKG memiliki sekitar 6.000 titik pengamatan hujan yang digunakan untuk memantau perkembangan curah hujan di seluruh Indonesia.

“Pada awal Juli 2026, berdasarkan laporan kondisi data hujan dari 4.686 titik pengamatan, diketahui bahwa sebagian Jawa, Bali, NTB dan NTT sudah lebih dari sebulan tidak mengalami curah hujan dan bisa menjadi indikasi potensi kekeringan,” kata Supari kepada Republika, Sabtu (18/7/2026).

Supari mengatakan, sejumlah wilayah tersebut tercatat tidak mengalami hujan selama 30 hingga 60 hari. Menurut dia, semakin lama suatu wilayah tidak diguyur hujan, semakin tinggi pula potensi terjadinya kekeringan.

“Semakin panjang durasi tanpa hujannya, menunjukkan indikasi semakin parah tingkat potensi kekeringannya,” ujar Supari.

Menanggapi kemungkinan pelaksanaan OMC, Supari mengatakan langkah tersebut memang dapat menjadi salah satu upaya mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan. Namun, pelaksanaannya harus memenuhi sejumlah persyaratan.

Menurut dia, efektivitas OMC sangat bergantung pada ketepatan waktu pelaksanaan, ketersediaan awan hujan, serta penentuan lokasi dan waktu penyemaian yang tepat.

“Prinsip utamanya adalah OMC tidak dapat ‘menciptakan’ hujan dari langit yang cerah,” ujar Supari.

Ia menjelaskan, OMC hanya dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan apabila masih terdapat awan hujan yang sedang tumbuh dan memiliki kandungan air yang cukup untuk disemai.

“Oleh karena itu pada musim kemarau yang kering, justru OMC tidak dapat dilaksanakan karena tidak ada bibit awan untuk disemai,” kata Supari.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |