BPMP Kepri: Pendidikan Jarak Jauh Solusi Tepat Atasi Tantangan Pendidikan di Wilayah Kepulauan

5 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG,

Kepala Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Warsita, menyatakan bahwa model Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sangat cocok diterapkan di wilayahnya. Penilaian ini didasarkan pada karakteristik geografis Kepri yang didominasi oleh pulau-pulau kecil, kawasan pesisir, dan daerah terluar yang membutuhkan layanan pendidikan lebih fleksibel.

Menurut Warsita, kondisi tersebut menuntut adanya model pembelajaran yang mampu menjangkau siswa tanpa terkendala jarak dan waktu, namun tetap menjaga mutu layanan pendidikan. Hal ini disampaikannya di Tanjungpinang, Sabtu.

Belajar dari Model SMA Terbuka Kepanjen

Warsita mengungkapkan bahwa BPMP Kepri telah melakukan studi tiru terhadap sistem PJJ di SMAN 1 Kepanjen, Jawa Timur. Sekolah tersebut merupakan salah satu dari tujuh sekolah rintisan SMA Terbuka Jarak Jauh di Indonesia yang telah beroperasi sejak tahun 2014.

Selain Jawa Timur, model PJJ serupa juga dikembangkan oleh provinsi lain seperti Sumatera Barat dan Maluku Utara. Model ini dirancang khusus untuk memperluas akses pendidikan menengah bagi anak-anak yang menghadapi kendala jarak, keterbatasan waktu karena harus bekerja, maupun hambatan ekonomi.

"Praktik SMA Terbuka Kepanjen relevan untuk dipelajari karena Kepri memiliki tantangan layanan pendidikan yang khas, yaitu terdiri dari gugusan pulau-pulau," ujar Warsita.

Fleksibilitas dengan Pendampingan Tatap Muka

Meskipun berbasis daring, model PJJ ini tidak sepenuhnya meninggalkan interaksi langsung. Sistem ini tetap memadukan sesi tatap muka terbatas melalui tutorial berkala di Tempat Kegiatan Belajar (TKB).

Dalam sesi tersebut, guru pendamping atau tutor akan membantu pendalaman materi, memfasilitasi diskusi, serta melakukan evaluasi pembelajaran. Dengan pola ini, siswa tetap mendapatkan interaksi langsung sekaligus fleksibilitas belajar yang tinggi.

Solusi untuk Mengembalikan Anak Tidak Sekolah

Warsita menekankan bahwa PJJ memiliki relevansi langsung dengan agenda pengembalian Anak Tidak Sekolah (ATS). Bagi anak-anak yang terkendala jarak, waktu, kondisi sosial ekonomi, atau akses transportasi, PJJ dapat menjadi alternatif layanan pendidikan yang lebih fleksibel.

"PJJ harus menjadi pendidikan yang menjemput, bukan menunggu. Anak yang terkendala jarak, bekerja membantu keluarga, atau tinggal di wilayah yang sulit dijangkau tetap harus memiliki jalan kembali ke layanan pendidikan," tegasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar penerapan model ini tidak sekadar menjadi formalitas administratif. Harus ada dukungan penuh berupa guru, tutor, modul, Learning Management System (LMS), pemantauan belajar, serta evaluasi yang memastikan anak benar-benar belajar.

BPMP Kepri berencana menindaklanjuti hasil kunjungan ke Jawa Timur dengan melakukan pemetaan kebutuhan layanan pendidikan menengah di wilayah kepulauan. Hasil studi tiru itu akan menjadi bahan awal dalam merumuskan rekomendasi model PJJ yang sesuai dengan karakteristik Kepri.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |