REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG, – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengeluarkan imbauan tegas kepada para pelaku usaha perjalanan wisata untuk memprioritaskan keselamatan wisatawan yang menggunakan transportasi laut. Permintaan ini disampaikan langsung oleh Kepala Dispar Kepri, Hasan, di Tanjungpinang pada Sabtu, menyusul insiden pompong terbalik yang terjadi di perairan sekitar Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang, Selasa (4/8).
Insiden tersebut menjadi perhatian serius dan bahan evaluasi terhadap aspek keselamatan transportasi laut, khususnya bagi para wisatawan. Hasan menekankan bahwa semua pihak terkait, termasuk travel agent, tour guide, dan penambang pompong, harus tertib dalam menaikkan dan menurunkan wisatawan hanya di lokasi resmi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kita imbau semua pihak terkait tertib dalam menaikkan dan menurunkan wisatawan di lokasi resmi yang telah ditetapkan pemerintah,” kata Hasan. Ia meminta agar travel agent dan tour guide benar-benar memastikan wisatawan menggunakan titik keberangkatan yang semestinya, serta tidak menaikkan penumpang dari lokasi yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas tersebut.
Dua Titik Keberangkatan Resmi
Hasan menegaskan bahwa kepatuhan terhadap ketentuan ini bukan hanya berkaitan dengan keamanan perjalanan, tetapi juga menyangkut kenyamanan wisatawan dan citra pariwisata Kepri. “Travel agent, tour guide, dan penambang pompong harus lebih disiplin dalam mengatur perjalanan wisatawan melalui jalur laut,” ujarnya.
Pemerintah daerah sendiri telah menetapkan dua titik keberangkatan resmi untuk mengangkut wisatawan yang menggunakan pompong sebagai moda transportasi utama di perairan Tanjungpinang. Titik pertama adalah Pelantar Kuning, yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik tradisional keberangkatan pompong menuju Pulau Penyengat, sebuah kawasan wisata bersejarah di Tanjungpinang.
Titik kedua adalah Pelantar II Kuala Riau yang menghubungkan Pelantar I dan Pelantar II. Kawasan ini disiapkan pemerintah untuk aktivitas sandar serta perpindahan penambang pompong.
Insiden pompong tenggelam di perairan Tanjungpinang menjadi pengingat pentingnya koordinasi antara pelaku usaha perjalanan wisata, pemandu wisata, operator pompong, dan pihak terkait dalam memastikan prosedur keselamatan penumpang dipatuhi. “Ketertiban penggunaan titik keberangkatan dan penurunan penumpang sangat penting untuk mendukung pengawasan aktivitas transportasi laut, khususnya yang melayani wisatawan dan masyarakat di Tanjungpinang,” tutup Hasan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
3 hours ago
1

















































