Barang-barang yang diimpor dari puluhan negara kini akan dikenakan pajak dengan tarif yang jauh lebih tinggi
Kebijakan Tarif Trump Berpotensi Ganggu Perdagangan dan Pasar Global (FOTO:MNC Media)
IDXChannel - Perang dagang yang dijanjikan Presiden Donald Trump telah dimulai. Hal ini mengancam ekonomi dunia dan membebani mitra dagang Amerika Serikat di Eropa dan Asia sehingga berpotensi ganggu pasar global.
Dikutip dari laman APnews Sabtu (5/4/2025), barang-barang yang diimpor dari puluhan negara kini akan dikenakan pajak dengan tarif yang jauh lebih tinggi dan hal itu diperkirakan menaikkan biaya untuk berbagai hal mulai dari mobil, pakaian, hingga komputer.
Tarif ini juga dapat membatasi ekspor AS dan menyebabkan defisit perdagangan yang sangat besar. Bahkan negara-negara yang menikmati surplus perdagangan dengan AS seperti Inggris dan Argentina menjadi sasaran tarif minimum sebesar 10 persen. Sedangkan tarif tertinggi dikenakan pada dua wilayah kecil seperti kerajaan Afrika Lesotho dan wilayah jajahan Prancis di Saint Pierre dan Miquelon di lepas pantai Atlantik Kanada.
Selama beberapa dekade, perdagangan global mematuhi tarif yang disetujui oleh AS dan 122 negara lain. Namun pada Rabu, Trump mengecam aturan tersebut, dengan mengatakan bahwa negara-negara lain telah mengeksploitasi sistem dan merampok Amerika Serikat selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan basis manufakturnya yang dulu perkasa menyusut. "Negara kita telah dijarah, dirampok, diperkosa, dan dirampok,” kata Trump di Rose Garden.
Adapun pasar keuangan global merosot pada Kamis. Di Wall Street, indeks industri Dow Jones turun 1.679 poin atau hampir 4 persen dan dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya.
Dengan demikian, hal ini menjadi sebuah tanda bahwa investor khawatir tentang ekonomi AS. “Ini adalah permainan, tidak hanya untuk ekonomi AS tetapi juga untuk ekonomi global,” kata Olu Sonola, Kepala Penelitian Ekonomi AS untuk Fitch Ratings. "Banyak negara akan berakhir resesi jika tarif ini tetap berlaku untuk jangka waktu yang lama," tuturnya.
Selama kampanye presiden, Trump berulang kali berbicara tentang penerapan tarif universal sebesar 10 persen hingga 20 persen pada semua impor dan tarif dasar 10 persen yang baru sesuai dengan deskripsi tersebut.
Dia juga mengancam akan mengenakan tarif 60 persen pada impor dari China. Namun sekarang dia mengenakan tarif timbal balik. "Ini ekstrem, tetapi sejalan dengan apa yang Trump kampanyekan,'' kata Erica York, Wakil Presiden Kebijakan Pajak Federal di Tax Foundation.
Hingga saat ini, tidak seorang pun tahu apakah tarif akan berlaku permanen atau apakah AS akan menurunkan atau membatalkannya sebagai respons terhadap negara lain yang bernegosiasi untuk mengurangi tarif mereka sendiri.
(kunthi fahmar sandy)