Tentara Israel beroperasi di Jalur Gaza, 21 Desember 2023.
REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Di tengah invasi udara Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran, Presiden Donald Trump membuka opsi untuk melakukan serangan darat. Meski demikian, media Israel, Channel 12, melaporkan militer Israel tidak akan berpartisipasi dalam operasi darat apa pun yang diluncurkan Amerika Serikat (AS) ke daratan Iran.
Jika Washington memutuskan untuk mengirimkan pasukan infanteri, "prajurit Israel tidak akan ikut serta di lapangan,"demikian dikutip Middle East Monitor, Rabu (1/4/2026).
Sikap Israel ini muncul saat Pentagon dilaporkan tengah mematangkan opsi serangan darat terbatas, termasuk penguasaan Pulau Kharg yang merupakan hub ekspor minyak vital Iran. Meski demikian, keputusan Israel untuk membiarkan tentara Amerika berjuang sendirian di darat memicu reaksi keras dari publik dan pengamat di Washington.
Kritik tajam mulai mengalir dari kelompok anti-perang dan pendukung kebijakan "America First". Mereka menilai Washington tengah didorong ke dalam konflik darat yang sangat mahal dan berisiko tinggi, sementara pihak yang dianggap paling diuntungkan dari perang ini justru enggan mempertaruhkan nyawa prajuritnya di garis depan.
Seorang pakar keamanan dari Universitas Chicago, Profesor Robert Pape, memperingatkan bahwa situasi ini menyerupai pola awal Perang Vietnam. "Sejarah Vietnam menunjukkan dengan tepat kapan perang udara berubah menjadi perang darat. Sepuluh hari ke depan akan menentukan apakah AS akan terperosok ke lubang yang sama,"ujar dia.
Muncul kekhawatiran jika perang ini berakhir buruk, hal itu akan mempercepat runtuhnya dominasi militer AS di kawasan. Dalam skenario tersebut, Israel berisiko dipandang bukan lagi sebagai aset strategis, melainkan sebagai pendorong utama konflik yang menjerumuskan sekutu terbesarnya ke dalam perang yang mustahil untuk dimenangkan.
.png)
9 hours ago
4

















































