Iklim Menghangat, Resor Ski di Jepang Berguguran

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO — Perubahan iklim mulai menggerus fondasi industri pariwisata musim dingin Jepang, terutama sektor resor ski. Pemanasan suhu dan ketidakpastian cuaca membuat banyak resor tak lagi mampu bertahan secara ekonomi.

Di tengah lonjakan wisatawan asing, jumlah resor ski aktif justru terus menyusut dan mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir. Data Japan Federation of Transport Cableways (JFTA) menunjukkan jumlah resor ski yang beroperasi pada 2025 tinggal 417 lokasi, turun sekitar 40 persen dibanding masa puncak pada 1999 yang mencapai 689 resor.

JFTA menghimpun data dari fasilitas ski domestik yang mengoperasikan lift dengan izin pemerintah.

Dalam survei pertama pada 1989 tercatat 636 resor, meningkat hingga 1999, lalu merosot di bawah 600 pada 2006, turun lagi di bawah 500 pada 2014, dan terus menurun hingga kini.

Sebaran resor ski terbesar masih berada di Hokkaido dengan 92 lokasi, disusul Prefektur Nagano sebanyak 80 lokasi dan Niigata sebanyak 46 lokasi.

Namun, dominasi wilayah bersalju tersebut tidak cukup menahan laju penutupan resor kecil dan menengah. Ironisnya, kemerosotan resor ski terjadi saat kunjungan wisatawan asing melonjak tajam.

Japan National Tourism Organization mencatat selama 11 bulan pertama 2025 jumlah turis asing mencapai 39,07 juta orang, melampaui total 2024 yang sebesar 36,87 juta orang. Sebaliknya, minat wisatawan domestik terhadap olahraga ski terus merosot.

Buku Putih Rekreasi 2025 mencatat hanya 2,8 juta warga Jepang yang bermain ski pada 2024, anjlok dari 4,8 juta orang pada 2015. Untuk bertahan, sejumlah resor mulai mengizinkan aktivitas non-ski seperti naik lift untuk menikmati pemandangan atau bermain ski bersama hewan peliharaan. Upaya ini dilakukan untuk memperluas pasar di luar penggemar olahraga musim dingin.

Menurut Japan Meteorological Agency, jumlah hari bersuhu di bawah nol derajat Celsius di Jepang terus menurun setiap tahun. Kepala Sekretariat JFTA Makoto Takayanagi mengatakan kondisi ini memaksa banyak resor memperpendek masa operasional.

“Banyak operator terpaksa tutup karena terbebani biaya listrik untuk produksi salju buatan, serta tingginya biaya personel dan perawatan,” kata Takayanagi, dikutip dari Japan Today, Senin (12/1/2026).

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Laporan Travel and Tour the World mencatat resor ski di Eropa dan Amerika Utara menghadapi tekanan serupa akibat musim dingin yang lebih pendek dan curah salju yang menurun.

Penelitian menunjukkan musim ski global kini rata-rata lebih pendek satu bulan dibandingkan era 1970-an, dengan ketebalan salju berkurang hampir 10 persen.

Di Eropa, studi menunjukkan 53 persen resor ski berisiko tinggi jika suhu global naik 2 derajat Celsius, dan melonjak menjadi 98 persen pada skenario kenaikan 4 derajat Celsius. Di Amerika Utara, resor di California dan Colorado juga menghadapi cuaca yang makin sulit diprediksi. Tekanan iklim ini mengubah struktur biaya dan model bisnis resor ski secara fundamental.

Sebagai respons, banyak resor beralih ke strategi keberlanjutan dengan menekan konsumsi energi, menggunakan lift listrik, serta mendiversifikasi aktivitas seperti snowshoeing, snowmobile, dan pendakian musim dingin. Di Jepang, wilayah seperti Hokkaido mulai menyasar wisatawan sadar lingkungan dengan pengalaman alam dan budaya lokal. Pemerintah Jepang pun menempatkan pariwisata berkelanjutan sebagai arah utama kebijakan ke depan.

Proyeksi iklim global menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ini hanya empat bekas tuan rumah Olimpiade Musim Dingin yang masih memiliki kondisi salju layak, yakni Lake Placid, Lillehammer, Oslo, dan Sapporo. Temuan ini menegaskan betapa beratnya tantangan perubahan iklim sekaligus menempatkan Sapporo sebagai salah satu lokasi yang relatif paling tangguh di masa depan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |