Hadapi Krisis Global, HIPMI Dorong Gerakan Nasional Hemat Energi

7 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -– Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Karena itu, Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mendorong diluncurkannya Gerakan Nasional Hemat Energi. Hal ini sebagai langkah strategis dan kolektif untuk menghadapi tekanan krisis energi global.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, mengatakan dinamika geopolitik global akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah mendorong terjadinya lonjakan harga energi dunia. Menurut dia, kondisi ini berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan beban subsidi energi, serta memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Sudah saatnya Indonesia memiliki Gerakan Nasional Hemat Energi terstruktur, terukur, dan masif. Ini bukan lagi sekadar imbauan, tetapi harus menjadi strategi nasional dalam menjaga ketahanan ekonomi dan energi kita,” kata Anggawira dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (26/03/2026).

Anggawira menjelaskan sampai hari ini, sejumlah negara telah melakukan berbagai aksi penghematan energi sebagai langkah antisipasi. Di antaranya dilakukan oleh Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. yang telah resmi mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional guna mengantisipasi gangguan pasokan bahan bakar global pada Selasa (24/3/2026).

Pada hari yang sama, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga meluncurkan 12 pedoman penghematan energi bagi warga untuk mengantisipasi krisis energi buntut perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.

HIPMI menilai, kata Anggawira, selama ini kebijakan energi di dalam negeri,  masih terlalu bertumpu pada sisi suplai, sementara pengelolaan konsumsi energi belum menjadi fokus utama. Padahal, dalam kondisi krisis, demand side management atau pengendalian konsumsi energi merupakan langkah paling cepat dan efektif untuk meredam tekanan.

“Jadi ini perlu diorkestrasi,” ujarnya.

HIPMI menilai Gerakan Nasional Hemat Energi harus dikemas sebagai program lintas sektor yang melibatkan seluruh elemen bangsa, dengan pendekatan konkret dan terukur. Pendekatan yang diperlukan di antaranya adalah kampanye publik secara masif untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi energi,?pengaturan konsumsi energi di sektor industri, gedung perkantoran, dan transportasi. Selanjutnya, optimalisasi penggunaan energi di sektor produktif secara efisien, penerapan standar efisiensi energi secara bertahap dan konsisten,dan pemantauan konsumsi energi berbasis teknologi digital

“Kita harus mengubah paradigma dari konsumtif menjadi efisien. Setiap penghematan energi memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional,” kata Anggawira menegaskan.

HIPMI menegaskan bahwa dunia usaha siap menjadi motor penggerak dalam implementasi Gerakan Nasional Hemat Energi . "Efisiensi energi bukan hanya soal penghematan biaya, tetapi juga bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri nasional di tengah tekanan global,” kata Anggawira.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |