BPS Catat Impor Barang Modal Meningkat, Aktivitas Industri Menguat

3 hours ago 4

Pengunjung mengamati mesin yang dihadirkan pada pameran Komponen Manufaktur Furnitur Internasional dan Pameran Mesin Pengerjaan Kayu (IFMAC WOODMAC 2025) ke-12 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta,Rabu (24/9/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Aktivitas industri dalam negeri mulai meningkat pada awal 2026, tercermin dari lonjakan impor barang modal. Kenaikan ini menunjukkan pelaku usaha mulai menambah kapasitas produksi di tengah permintaan yang tetap terjaga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang modal sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai 9,10 miliar dolar AS atau naik 34,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan terutama didorong kebutuhan mesin dan peralatan produksi.

“Neraca perdagangan Indonesia hingga Februari 2026 mencatat surplus 2,23 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam jumpa pers, Rabu (1/4/2026).

Secara keseluruhan, neraca perdagangan masih mencatat surplus sebesar 2,23 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang sektor nonmigas sebesar 5,42 miliar dolar AS, sementara sektor migas mencatat defisit 3,19 miliar dolar AS.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia secara kumulatif mencapai 42,09 miliar dolar AS atau naik 14,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama berasal dari impor nonmigas yang tumbuh 17,49 persen menjadi 36,93 miliar dolar AS.

Impor bahan baku dan penolong juga meningkat 9,27 persen menjadi 29,40 miliar dolar AS. Peningkatan ini menunjukkan kebutuhan input produksi masih tinggi seiring aktivitas industri yang mulai menguat.

Kenaikan impor barang modal umumnya berkaitan dengan ekspansi usaha. Masuknya mesin dan peralatan baru menjadi indikasi pelaku industri meningkatkan kapasitas produksi.

Dari sisi ekspor, kinerja Indonesia tumbuh 2,19 persen secara tahunan dengan sektor industri pengolahan sebagai pendorong utama.

Cina tercatat sebagai sumber impor terbesar sekaligus tujuan ekspor utama, diikuti Amerika Serikat dan India.

Meski surplus masih terjaga, laju impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |