
Oleh : Smith Alhadar, Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses gencatan senjata sebagaimana diinginkan Presiden AS Donald Trump menghadapi jalan buntu. Trump mengajukan 15 syarat pengakhiran perang melalui Pakistan sebagai mediator, yang intinya menuntut Iran menyerah. Tuntutan Trump tak mempertimbangan martabat Iran dan realitas di lapangan.
Tak heran, tuntutan arogan dan manipulatif itu dibalas Iran dengan lima syarat penghentian perang yang, kendati masuk akal secara hukum, nyaris mustahil bisa diterima Trump. Menerima tuntutan Iran sama artinya dengan kapitulasi. Dus, tuntutan Trump dan Iran tidak menyisakan ruang diplomasi alias deadlock.
Sesungguhnya tuntutan Trump bukan diplomasi melainkan gimmick untuk memperlihatkan Iran dalam kontrol AS, yang sesungguhnya sedang menghadapi kesulitan besar, baik di tingkat domestik, regional, maupun global. Agresi AS-Israel terhadap Iran, yang dimaksudkan menghadirkan pergantian rezim (regime change) di Iran ternyata membuah hasil yang berkebalikan.
Kendati pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei serta sejumlah pemimpin militer dan pejabat negara berhasil dibunuh, rezim mullah tetap eksis. Bahkan semakin kuat. Terlebih, Iran melancarkan perang asimetris yang sukses. Pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) – Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Bahrain, dan Kuwait – plus Irak dan Yordania jadi target Iran yang menghancurkan.
Puluhan tentara AS tewas dan ratusan lainnya cedera. Belakangan Iran juga menargetkan infrastruktur sipil di negara-negara Arab tersebut yang terkait dengan AS sebagai balasan atas serangan AS-Israel terhadap infrastruktur sipil Iran. Menurut Program Pembangunan PBB (UNDP), hingga 31 Maret GDP kawasan kehilangan 194 miliar dollar AS, yang membuat 4 juta warga Arab jatuh miskin.
Iran, bersama proksinya di Lebanon dan Yaman, juga menyasar lembaga-lembaga strategis dan infrastruktur sipil di berbagai kota di Israel menggunakan tit-for-tat strategy – mata dibalas mata, gigi dibalas gigi – yang membuat Israel terpukul hebat secara militer dan ekonomi, serta menciptakan keresahan sosial yang luas.
Sistem pertahanan udara berlapis Israel ternyata tak banyak membantu. Penutupan Selat Hormuz, rute tanker-tanker internasional yang mengangkut 20 persen kebutuhan energi dunia, memicu krisis energi dan ekonomi global, yang menguras daya beli masyarakat AS. Kondisi inilah yang memaksa Trump menawarkan gencatan senjata.
Menolak Trump
Pakistan diberi kepercayaan sebagai mediator. Selain sekutu AS dan Arab Saudi, Pakistan juga tetangga Iran yang memiliki komunitas Syiah terbesar kedua setelah Iran. Komunitas Sunni pun bersimpati pada Iran. Terlebih, Islamabad menentang regime change. Selama dua hari (29-30 Maret), Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir, bertemu dengan Menlu Pakistan di Islamabad untuk mencari jalan keluar yang menjembatani tuntutan AS dan tuntutan Iran.
Proses ini menjadi sulit karena Iran menolak berunding dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Keduanya perunding dengan Menlu Abbas Araghchi di Geneva. Perundingan putaran kedua itu telah mengalami kemajuan substansial.
Sekonyong-konyong, tanpa menggubris permintaan GCC yang tak menghendaki eskalasi dengan Iran – juga tanpa memberi tahu NATO – AS-Israel melancarkan agresi terhadap Iran. Mengapa Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu memilih membuyarkan proses diplomasi saat Iran telah memberi konsesi signifikan?
Netanyahu, yang sudah sejak 40 tahun lalu menghendaki regime change di Iran, berperan besar dalam agresi ini. Sehari setelah pecah demonstrasi besar di Iran (28 Desember 2025), Netanyahu bertemu Trump di Gedung Putih. Pada kesempatan itu, Netanyahu membujuk Trump untuk segera melancarkan perang terhadap Iran.
Mengutip informasi dari badan intelijen Israel (Mossad), Netanyahu mengatakan kaki tangan Israel sudah siap mengambil alih pemerintahan. Yang diperlukan AS-Israel hanyalah menciptakan kondisi untuk itu, berupa serangan singkat yang menargetkan para pemimpin puncak Iran. Menurut Netanyahu ini kesempatan emas mengingat posisi rezim mullah sedang rapuh akibat lilitan ekonomi dan keresahan sosial yang sedang meluas.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
7 hours ago
3
















































