Foto selebaran yang disediakan oleh Kantor Angkatan Darat Iran menunjukkan pasukan Angkatan Darat Iran selama latihan militer di pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Ahli keamanan nasional Iran, Morteza Simiyari dalam wawancaranya dengan salah satu stasiun televisi IRIB mengatakan, Iran "sangat siap" untuk menginvasi dua negara tetangga "Jika Amerika membuat kesalahan di kawasan". Dilansir Mirror, Kamis (26/3/2026), Simiyari mengatakan, Angkatan Bersenjata Iran memiliki kemampuan melancarkan invasi pesisir Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.
Simiyari juga membantah laporan yang menyebutkan bahwa aset keuangan Iran telah ditarik dari UEA. "Ini bertujuan untuk menekan Iran dan melancarkan perang psikologis," kata Simyari Selasa (24/3/2026).
Simiyari mengingatkan bahwa jika aset-aset Iran dipindahkan dari UEA, Teheran akan menargetkan semua pusat finansial dan bank di negara itu. "Kami sangat serius terhadap pejabat UEA karena kerja sama mereka dengan AS," kata Simiyari.
Iran pada Rabu (25/3/2026) menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang sembari terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Salah satu serangan menargetkan sebuah depot minyak di Bandara Internasional Kuwait memicu kebakaran.
Keteguhan Iran untuk menolak proposal gencatan senjata AS juga bersamaan dengan serangan udara Israel terhadap Teheran, sementara AS mengirim pasukan dari Angkatan Udara dan marinir ke kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara dengan televisi Iran dilansir Associated Press, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pembicaraan mengakhiri perang, "dan kami tidak merencanakan negosiasi apapun."
Pernyataan Araghchi tak lama setelah salah satu pembaca berita di salah satu stasiun TV Iran mengutip seorang sumber pejabat yang mengatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata dari AS. Iran menurut presenter TV itu, memiliki tuntutan tersendiri untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan yang meneruskan proposal AS ke Iran, menggambarkan 15 poin yang di antaranya adalah pencabutan sanksi, penghapusan progran nuklir, pembatasan program rudal, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara, seorang pejabat dari Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan, proposal AS juga meminta Iran membatasi dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
.png)
7 hours ago
3
















































