REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengapresiasi para relawan yang selama hampir tiga pekan bertugas melayani penyintas bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagian relawan bahkan harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, hingga tempat praktik demi menjalankan misi kemanusiaan.
Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief mengatakan, pengabdian para relawan di lapangan bukan perkara mudah. Mereka bekerja dalam berbagai layanan, mulai dari dapur umum, pelayanan kesehatan, hingga distribusi bantuan logistik kepada masyarakat terdampak.
“Atas nama PP Muhammadiyah, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang mengawal proses yang berjalan tiga pekan di lapangan,” ujar Hilman di Dampek, Manggarai Timur, NTT, Ahad (6/9/2026).
Relawan Muhammadiyah selama masa tanggap bencana antara lain menyediakan makanan bagi penyintas melalui dapur umum. Tim kesehatan juga mengandalkan fasilitas rumah sakit lapangan untuk menangani pasien, sementara relawan lainnya menyortir dan mendistribusikan bantuan berupa family kit, school kit, RendangMu, serta kebutuhan lainnya.
Hilman mengatakan, pergantian tim relawan menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan pelayanan. Ia bersyukur tim berikutnya telah datang untuk menggantikan relawan yang telah bertugas selama beberapa pekan.
“Ini bukan perkara mudah. Alhamdulillah, saya dengar teman-teman relawan yang lain telah datang untuk mengganti jadwal. Ini momentum yang baik untuk kita menjaga keberlanjutan,” kata dia.
Menurut Hilman, kesinambungan menjadi salah satu prinsip penting dalam aksi kemanusiaan Muhammadiyah. Di lingkungan Persyarikatan, kata dia, dikenal semangat bahwa relawan berusaha datang lebih awal ketika bencana terjadi dan pulang paling akhir setelah proses pelayanan kemanusiaan berjalan.
Ia mengungkapkan, sebagian relawan yang diterjunkan ke NTT merupakan tenaga kesehatan hingga dokter spesialis. Mereka harus meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan aktivitas profesional selama menjalankan tugas kemanusiaan.
“Relawan-relawan ini meninggalkan pekerjaannya. Dokter-dokter spesialis yang praktik, meninggalkan ruang kerjanya selama tiga minggu,” ujar Hilman.
Menurut dia, pengorbanan tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai keagamaan yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Hilman mengutip pesan Al-Qur’an, wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā, atau perintah untuk saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.
Hilman juga menyinggung Surah Al-Balad yang berbicara mengenai al-‘aqabah atau jalan yang berat dan sulit. Menurut dia, pesan tersebut mengajarkan umat untuk berani mengambil langkah nyata dalam membantu sesama, termasuk memberi makan, menolong masyarakat yang mengalami kesulitan, serta hadir bagi kelompok rentan.
“Kita tidak sedang bicara pribadi. Alhamdulillah, Muhammadiyah dan tentu organisasi keagamaan yang lain memperkuat level itu sehingga kita menjadi gerakan kolektif,” katanya.
Hilman mengatakan, kesiapan relawan Muhammadiyah merupakan hasil proses panjang yang dibangun melalui konsolidasi berbagai unsur Persyarikatan. Di antaranya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), LAZISMU, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), serta jaringan rumah sakit dan tenaga kesehatan Muhammadiyah.
Salah satu penguatan dilakukan melalui pengembangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang dipersiapkan sejak 2018. Pengembangan tersebut mencakup peningkatan pengetahuan, kapasitas dan keterampilan, penyusunan prosedur, sertifikasi, hingga penguatan mentalitas relawan dalam menghadapi situasi kedaruratan.
“Kami tidak ingin semangat kawan-kawan ini terhambat hanya karena masalah administrasi,” ujar Hilman.
.png)
2 hours ago
1
















































