REPUBLIKA.CO.ID, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyerukan penyelidikan independen terhadap perlakuan Israel kepada para aktivis flotilla bantuan Gaza yang ditahan pekan lalu. Seruan itu disampaikan Carney saat berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Israel Isaac Herzog pada Senin waktu setempat.
Menurut keterangan resmi Kantor Perdana Menteri Kanada, Carney menegaskan bahwa “perlakuan mengerikan terhadap warga sipil, termasuk warga negara Kanada, di atas flotilla menuju Gaza tidak dapat diterima.”
Sebanyak 12 warga Kanada termasuk di antara sekitar 420 aktivis dari 41 kapal yang dicegat Israel saat berupaya membawa bantuan simbolis ke Jalur Gaza di tengah pembatasan ketat yang diberlakukan Israel terhadap wilayah tersebut.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan para aktivis dipaksa berlutut berjajar di tanah dengan tangan terikat di belakang punggung dan kepala menempel ke lantai.
Dalam video itu, para aktivis tampak berada di area penahanan darurat di Pelabuhan Ashdod, Israel, serta di dek kapal yang digunakan aparat Israel setelah pencegatan dilakukan.
Kanada kini bergabung dengan Italia, Prancis, dan Belanda dalam memanggil duta besar Israel menyusul beredarnya video Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang mengejek para aktivis flotilla yang ditahan.
Kondisi para peserta Global Sumud Flotilla yang diculik Israel setibanya di Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026).
Dalam video tersebut, Ben-Gvir tampak mengejek para aktivis dan mengatakan mereka seharusnya tetap berada di penjara untuk waktu yang “sangat, sangat lama.”
Carney mengatakan kepada Herzog bahwa dirinya “mengutuk keras” komentar Ben-Gvir tersebut. Kanada sendiri tahun lalu telah menjatuhkan sanksi terhadap Ben-Gvir atas tuduhan berulang menghasut kekerasan terhadap komunitas Palestina.
Selain membahas insiden flotilla, Carney dan Herzog juga mendiskusikan sejumlah isu lain, termasuk situasi kemanusiaan di Gaza, konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah, serta meningkatnya antisemitisme di Kanada.
Tindakan Ben-Gvir juga memicu kritik dari sebagian anggota pemerintahan Israel sendiri. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel memang memiliki hak untuk menghentikan “flotilla provokatif pendukung teroris Hamas”, namun cara Ben-Gvir menangani para aktivis “tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel.”
Pencegatan terhadap flotilla bantuan Gaza itu kembali memicu sorotan internasional terhadap kebijakan blokade Israel terhadap Jalur Gaza, terutama di tengah memburuknya kondisi kemanusiaan akibat perang yang terus berlangsung di wilayah tersebut.
.png)
2 hours ago
1
















































