Rabu 22 Jul 2026 07:07 WIB
•
Oleh: Almarhum Alwi Shahab
REPUBLIKA.CO.ID, Batavia memang menyontek Eropa. Deretan gedung-gedung di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, contohnya. Pada akhir abad ke-19, saat hanya berpenduduk 116 ribu jiwa, Batavia dijuluki permata dari timur.
Tidak hanya tingkat kependudukan di lingkungan orang Eropa yang rendah, tapi suasana serupa juga terdapat di perbatasan bagian selatan kota yang kala itu tidak melampaui Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kala itu, Batavia sebagai ibu kota koloni Hindia Belanda lebih bersuasana pedesaan dibandingkan kota industri dan pelabuhan Surabaya yang berpenduduk 147 ribu jiwa dan berirama hidup lebih cepat.
Dewasa ini, kita harus bersusah payah berkendaraan dari Harmoni (kini Jalan Majapahit) ke Glodok melewati Jalan Gajah Mada (dulu Molenvliet West) akibat macetnya yang kagak ketolongan. Di era itu, wilayah Harmoni berdekatan dengan Monas yang pada masa Prancis dijuluki Champs de Mars. Lalu, berganti jadi Koningsplein (Lapangan Raja) saat kekuasaan Belanda dipulihkan. Tapi, rakyat menyebutnya Lapangan Gambir.
Berkat kekuasaan Prancis (1808-1812), Batavia memiliki daerah Prancis, termasuk kawasan Harmoni. Warga Prancis juga tinggal di Risjwijk Straat (berasal dari kata risjk atau persawahan dan wijk atau lapangan luas). Kala itu, Risjwijk merupakan daerah pinggiran Saint Honore Kota Batavia.
Di paling ujung deretan pertokoan, terdapat penjahit terkenal Oger Freres (Oger Bersaudara). Di sini, orang bisa mendapatkan busana mengikuti model terbaru dari Paris (gedungnya kini ditempati Biro Perjalanan Nitour).
.png)
3 hours ago
6

















































