Tanpa Bimbel Mahal, Farah Sa’diah Lolos Arsitektur ITB Berkat Learning Camp Beasiswa Perintis

4 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Di tengah keterbatasan biaya, Farah Sa’diah Miranti membuktikan bahwa mimpi tetap bisa menemukan jalannya. Penerima manfaat Beasiswa Perintis angkatan 2025 itu berhasil menembus Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) tanpa mengikuti bimbingan belajar mahal seperti kebanyakan siswa lainnya.

Sejak SMA, Farah sudah terbiasa hidup mandiri di sekolah berasrama. Ia menempuh pendidikan di SMAN CMBBS, sekolah berbasis asrama yang membebaskan biaya pendidikan, tempat ia berinvestasi pada prestasi. Baginya, asrama bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembentukan karakter dan ketahanan diri.

Perjalanan menuju kampus impian tidak selalu mulus. Di saat teman-temannya mengikuti bimbel intensif untuk menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Farah justru melatih ekstrakurikuler renang untuk menambah penghasilan.

Keinginan mengikuti bimbel sempat terlintas. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang tidak lebih dari Rp 500 ribu per bulan membuatnya memilih belajar mandiri.

“Saya ingin juga bimbel, tapi tidak ada biaya. Orang tua kerja serabutan, sehingga saya berusaha untuk mencari pundi-pundi lain entah itu dengan mengajar les, termasuk memilih sekolah asrama.  Saya mencoba belajar mandiri dan meyakinkan keluarga bahwa saya baik-baik saja,” ujar Farah.

Ketekunan itu berbuah prestasi. Pada 2024, Farah meraih medali emas nasional dalam ajang Pusprenas dan Indonesia Youth Science (IYS). Ia bahkan turut mengantarkan anak-anak didiknya di ekskul renang meraih juara. Namun di balik capaian tersebut, tak jarang ia harus mengundurkan diri dari perlombaan karena terkendala biaya pendaftaran.

Beasiswa Perintis

Titik balik itu datang ketika gurunya mengenalkan Learning Camp (LC) Beasiswa Perintis yang diselenggarakan Rumah Amal Salman. Program tersebut memberikan pembinaan intensif persiapan UTBK dengan pengajar berkualitas tanpa memungut biaya tinggi.

“Learning Camp membuat saya bisa belajar UTBK dengan materi yang matang dan pengajar luar biasa, tanpa harus mengkhawatirkan biaya,” kata Farah.

Melalui Learning Camp, Farah mendapatkan strategi belajar terstruktur, simulasi ujian, serta pendampingan akademik yang selama ini sulit ia akses. Hasilnya, ia meraih skor UTBK tinggi dan dinyatakan lolos ke ITB melalui jalur seleksi nasional.

Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa akses pendidikan berkualitas tidak selalu identik dengan biaya mahal. Bagi Farah, perjuangan belum selesai. Ia yang kini menjadi penerima manfaat Perintis Leadership Program (PLP) masih harus berjuang 4 tahun ke depan untuk bisa lulus dengan nilai yang membanggakan.

“Pendidikan adalah jembatan masa depan. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk orang-orang yang ingin saya bantu nanti,” ujarnya.

Program Beasiswa Perintis menggunakan dana zakat dan infak sebuah amanah dari para donatur. Sejak berjalan pada 2010, program ini telah meluluskan lebih dari 1.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri.

Di tahun berjalan, Beasiswa Perintis tengah membiayai sekitar 450 mahasiswa angkatan 2022 hingga 2025, menghadirkan harapan baru bagi generasi muda yang berjuang menembus pendidikan tinggi melalui jalan kebaikan bersama. 

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |