Tak Diganjar Nobel Perdamaian, Alasan Trump Ngotot Caplok Greenland

13 hours ago 4

Presiden AS Donald Trump didampingi kepala negara lain termasuk Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri KTT Perdamaian Internasional Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin, 13 Oktober 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump menghubungkan tingkah agresif AS belakangan dengan kegagalannya memenangkan hadiah Nobel perdamaian. Hal ia ia sampaikan di ketegangan trans-Atlantik mengenai pulau Arktik semakin meningkat dan mengancam akan mengobarkan kembali perang dagang dengan UE. 

Dalam pesan teks luar biasa yang dikirim pada hari Ahad kepada perdana menteri Norwegia, Jonas Gahr Støre, presiden AS menulis bahwa setelah dihina untuk mendapatkan penghargaan tersebut, dia tidak lagi merasa perlu untuk memikirkan “perdamaian semata”. 

“Mengingat Negara Anda memutuskan untuk tidak memberi saya Hadiah Nobel Perdamaian karena telah menghentikan 8 Wars PLUS, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk memikirkan Perdamaian semata,” tulisnya dilansir the Guardian. Ia menambahkan bahwa AS membutuhkan “kendali penuh dan total” atas Greenland. 

Trump telah meningkatkan upayanya untuk merebut pulau tersebut, yang sebagian besar merupakan wilayah pemerintahan mandiri Denmark. Dalam beberapa pekan terakhir, dengan mengatakan bahwa AS akan mengambil kendali atas pulau Arktik tersebut “dengan cara apa pun” dan, pada akhir pekan: “Sekarang saatnya, dan hal itu akan terlaksana!!!”

Pada hari Sabtu ia mengancam akan menerapkan tarif hukuman sebesar 10 persen, yang kemudian meningkat menjadi 25 persen, pada impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Perancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Finlandia kecuali mereka membatalkan keberatan mereka terhadap rencana tersebut. 

Perselisihan ini telah menjerumuskan hubungan perdagangan antara UE dan AS ke dalam kekacauan baru, memaksa blok tersebut untuk mempertimbangkan tindakan pembalasan, dan juga berisiko menghancurkan aliansi trans-Atlantik NATO yang telah menjamin keamanan negara-negara Barat selama beberapa dekade.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |