
Oleh : Syafrimen, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung/Ketua Dewan Pendidikan Lampung
REPUBLIKA.CO.ID, Setiap tahun ajaran sekolah berlomba menunjukkan prestasi akademik peserta didik, nilai ujian meningkat, ranking naik, berbagai penghargaan diperoleh. Pada saat yang sama, kita menyaksikan satu ironi yang mengusik nurani. Banyak anak yang melek secara teknologi, tetapi semakin rapuh secara moral dan akhlak.
Perilaku agresif di sekolah, pergaulan tanpa batas, ujaran kebencian di media sosial, budaya copy paste, hingga lunturnya rasa hormat kepada guru dan orang tua bukan lagi menjadi cerita yang luar biasa, tetapi telah berubah menjadi fenomena keseharian yang perlahan kita anggap biasa (dinormalisasi).
Keadaan ini semakin mengkonfirmasi, bahwa persoalan remaja hari ini bukan hanya soal prestasi, tetapi yang lebih substansial adalah soal arah hidup. Anak-anak kita hari ini tahu berbagai hal, tetapi sering tidak tahu untuk apa mereka ketahui itu digunakan. Mereka mahir berselancar di dunia digital, tetapi gagap bahkan mungkin tidak dapat membaca dirinya sendiri.
Keluarga dan sekolah mengajarkan logika, tetapi sering kehilangan ruang untuk menumbuhkan empati. Pendidikan mengisi kepala (mengembangkan kemampuan kognitif), namun belum tentu menyentuh nurani.
Ketika Sekolah Mengajar, Namun Nurani Tertinggal
Kita patut bertanya secara jujur pada diri masing-masing, apakah pendidikan kita terlalu sibuk mengejar capaian akademik, sementara akhlak dan karakter dibiarkan tumbuh sendiri tanpa pendampingan? Ketika peserta didik terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan verbal dan fisik, ketika kejujuran dianggap ketinggalan zaman, ketika rasa malu sudah memudar, sesungguhnya kita sedang menyaksikan krisis nurani yang akan menghancurkan masa depan generasi muda dan masa depan bangsa.
Pada situasi inilah Ramadhan menemukan relevansinya sebagai ruang pendidikan karakter (akhlak) yang paling autentik. Menurut perspektif psikologi belajar, Ramadhan merupakan konteks emosional yang sangat kuat menghadirkan pengalaman spiritual langsung yang membuat proses belajar tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menyentuh perasaan dan kesadaran.
Melalui puasa, qiyamul lail, shalat berjamaah, menghafal Al-Qur’an, dan muhasabah diri, nilai agama tidak hanya sekadar dipahami, tetapi dialami sebagai stimulus afektif yang membentuk hubungan positif antara iman (keyakinan) dengan pengalaman hidup, sehingga nilai berpindah dari “kognitif” ke “hati”. Peserta didik tidak hanya tahu bahwa shalat itu wajib, tetapi merasakan ketenangannya, tidak hanya menghafal Asmaul Husna, tetapi belajar mempraktekkan kasih sayang dalam relasi sosial. Inilah proses internalisasi nilai, bukan kepatuhan karena takut, melainkan ketaatan karena kesadaran. Ibadah puasa melatih pengendalian diri, tarawih melatih disiplin, tadarus melatih kesabaran, dan zakat melatih kepekaan sosial, membentuk kurikulum akhlak yang tidak tertulis namun efektif.
Pesantren Kilat Ramadhan di sekolah tidak patut dipahami sebagai kegiatan tambahan atau solusi instan, melainkan sebagai ruang pembiasaan untuk mengisi kekosongan makna pendidikan formal, tempat peserta didik belajar hidup sederhana, beribadah bersama, dan merenung, agar di tengah dunia yang serba cepat mereka mampu berhenti sejenak dan mendengar suara hati masing-masing.
Pendidikan karakter (akhlak) tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman yang diinternalisasikan secara berulang, menyentuh emosi dan nurani. Krisis remaja hari ini bukan hanya rendahnya disiplin, lunturnya adab, hingga keberanian bahkan merasa gagah melanggar norma dan nilai, tetapi juga krisis intelektual, bahkan krisis makna. Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk menatanya kembali, internalisasi kepada peserta didik tentang pengenalan dirinya, Tuhannya, dan sesamanya.
Pesantren Kilat: Dari Ritual ke Internalisasi Nilai
Pesantren kilat (Sanlat) menyimpan daya yang kerap diremehkan, ia tidak hanya mengajarkan nilai tetapi menghidupkannya melalui pengalaman. Peserta didik tidak sekadar mendengar tentang disiplin dan empati, melainkan merasakan pengalaman melalui shalat berjamaah, menahan lapar bersama, hidup sederhana, dan merenung.
Pengalaman seperti inilah yang melekat di hati, karena pendidikan sejati bekerja pada wilayah rasa. Sanlat sejalan dengan hikmah para pemikir besar, Al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi menyucikan jiwa, ilmu tanpa akhlak adalah bencana terselubung, anak belajar dari keteladanan serta kebiasaan. Ibn Miskawayh menegaskan bahwa akhlak lahir dari latihan yang diulang, bukan dari pengetahuan semata.
Sedangkan Ibn Khaldun mengkritik pendidikan yang sibuk menumpuk hafalan tanpa makna, yang dibutuhkan adalah malakah, karakter yang menetap. Meski singkat dalam waktu, pesantren kilat justru menanamkan nilai yang panjang umur dalam jiwa, melalui intensitas pengalaman yang perlahan membentuk kebiasaan, kesadaran, dan arah hidup individu.
Saat ini, mungkin kita sering mengeluhkan remaja mudah marah, sulit diatur, dan tidak bertanggung jawab. Namun mungkin jarang bertanya, sudahkah mereka diberi ruang untuk melatih pengendalian diri? Sudahkah mereka dibiasakan untuk hidup teratur dan sederhana? Pesantren kilat memberi ruang itu.
Melatih peserta didik untuk mengatur waktu, menunda kesenangan, dan berbagi dengan sesama. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk menjawab problem perilaku remaja hari ini yang cenderung impulsif dan egosentris. Lebih jauh, pesantren kilat juga menjadi jembatan antara nilai keagamaan dan nilai universal. Puasa mengajarkan solidaritas sosial. Zakat mengajarkan makna keadilan. Menjaga kebersihan mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini semua sejalan dengan cita-cita pendidikan global, yaitu pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, dan kepedulian terhadap semesta.
Religiusitas tidak membuat generasi terasing dari dunia, justru membekali mereka untuk hidup lebih bermakna. Menjadi pelajar yang taat bukan berarti menutup diri dari globalisasi, melainkan memiliki kompas moral (akhlak) untuk tetap menjadi diri sendiri. Anak yang memiliki karakter (akhlak) akan lebih tangguh menghadapi berbagai tantangan, lebih bijak menggunakan teknologi, dan lebih peduli pada sesama.
Pesantren kilat akan kehilangan makna jika hanya menjadi ritual tahunan. Tanpa kesinambungan, hanya akan menguap seperti embun pagi. Anak akan kembali pada kebiasaan lama jika lingkungan setelah Ramadhan tidak berubah. Inilah tantangan terbesar, pesantren kilat sebagai gerbaang awal, bukan akhir.
Yang dibutuhkan bukan hanya sekadar peserta hadir, tetapi pendampingan yang konsisten. Bukan hanya kegiatan yang ramai, tetapi budaya sekolah yang ramah spiritual, karakter (akhlak). Bukan hanya hafalan, tetapi keteladanan. Anak tidak membutuhkan ceramah panjang tentang kejujuran jika melihat di depan matanya guru selalu berperilaku jujur. Tidak perlu diceramahi tentang disiplin jika ia melihat pendidiknya datang tepat waktu. Pesantren kilat sejatinya panggilan untuk kembali pada hakikat pendidikan, membentuk manusia seutuhnya. Bukan hanya pekerja masa depan, tetapi warga moral hari ini.
Orang Tua, Guru, dan Masyarakat: Siapa Bertanggung Jawab?
Kesalahan terbesar kita sering melempar tanggung jawab, bahwa pendidikan karakter (akhlak) cukup diserahkan kepada sekolah dan ustaz. Padahal anak-anak hidup lebih lama di rumah dan masyarakat daripada di kelas. Jika pesantren kilat mengajarkan shalat berjamaah, tetapi di rumah justru larut dalam gawai tanpa batas, maka ia menerima pesan ganda. Jika sekolah mengajarkan adab, tetapi lingkungan mempraktikkan kekerasan verbal, maka pendidikan kehilangan daya.
Orang tua keluarga adalah sekolah pertama. Dari merekalah anak belajar cara berbicara, cara marah, cara mencintai. Jangan berharap pesantren kilat berhasil jika rumah justru menjadi ruang tanpa dialog. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir. Hadir mendengar, hadir menegur dengan kasih sayang, hadir memberikan teladan yang baik.
Guru perlu merefleksi kembali perannya. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menyentuh jiwa. Anak akan lupa sebagian besar isi pelajaran, tetapi tidak akan lupa bagaimana ia diperlakukan. Guru yang mengajar dengan hati akan lebih dikenang daripada guru yang hanya mengejar target kurikulum.
Masyarakat juga tidak boleh lepas tangan. Lingkungan sosial adalah kelas besar yang tidak tertulis. Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari: cara orang dewasa berbicara, cara menyelesaikan konflik, cara menghormati perbedaan.
Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika nilai yang diajarkan di sekolah bertabrakan dengan praktik di lingkungan sekitar. Pesantren kilat seharusnya menjadi gerakan bersama, bukan kegiatan sekolah semata. Ia adalah undangan untuk seluruh elemen yaitu orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan pemerintah untuk menyatukan pesan moral yang sama. Anak membutuhkan konsistensi, bukan kontradiksi.
Ramadhan memberi kita peluang emas untuk itu. Ia adalah momen ketika suasana batin masyarakat lebih reseptif. Masjid ramai, hati lebih lunak, solidaritas meningkat. Dalam kondisi seperti ini, nilai mudah ditanam. Apakah kita mau memanfaatkannya secara serius, atau sekadar merayakannya sebagai serimonial?
Ramadhan sebagai Kurikulum Karakter Bangsa
Ramadhan adalah sekolah kehidupan. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari latihan dan kebiasaan kecil, seperti menahan diri, mengatur waktu, berbagi, dan merenung. Pesantren kilat merupakan bentuk konkret pendidikan Ramadhan di ruang sekolah. Kita tidak sedang mengajarkan anak membaca kitab suci, tetapi membaca realitas. Tidak hanya melatih dan membiasakan ibadah, tetapi melatih dan membiasakan empati. Tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi membangun kesadaran.
Di tengah maraknya persoalan moral remaja, lunturnya adab, menguatnya budaya instan, hingga melemahnya rasa tanggung jawab, pesantren kilat menjadi ikhtiar kecil yang sarat makna. Ia mungkin tidak langsung mengubah dunia, tetapi dapat mengubah arah hidup seorang anak. Dan perubahan arah hidup seorang anak, pada akhirnya, adalah perubahan masa depan bangsa.
Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan perilaku, maka Ramadhan hanya menjadi kalender tahunan. Tetapi jika Ramadhan diisi dengan proses pendidikan yang hidup melalui pesantren kilat yang bermakna maka ia menjadi kurikulum karakter bangsa. Di tengah dunia bising dengan gawai dan ambisi, pesantren kilat mengajarkan satu hal yang semakin langka, diam sejenak untuk mengenal diri, di sinilah substansi pendidikan sesungguhnya. Dari ruang-ruang kecil sekolah, masjid, mushola, mudah-mudahan lahir generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki nurani. Tidak hanya kompetitif, tetapi juga peduli. Tidak hanya mengejar masa depan, tetapi memahami makna hidup yang sesungguhnya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
.png)
2 hours ago
2
















































