Tahta dan Andil Sunda: Geologi ke Siliwangi Jaga Negeri

2 hours ago 1

Oleh: Indra Gunawan, Associate Professor FEB UIII

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Urang Sunda teh sanak lelakon, tangkal raksanaga, teu kuciwa ku kamarih.” (Orang Sunda adalah pejalan waktu, tolak prahara, pantang menyerah.)

Sundaland sebagai awal mula peradaban yang tenggelam. Sebelum ada kerajaan, sebelum ada raja, sebelum ada nama “Sunda”, ada Sundaland—daratan luas yang kini tenggelam di bawah Laut Jawa.

Berdasarkan data geologi, Sundaland merupakan bagian dari Benua Asia yang terpisah akibat kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global sekitar 12 ribu-18 ribu tahun lalu.

Proses tenggelamnya berlangsung selama 6.000 tahun secara perlahan, meninggalkan kepulauan yang kini kita kenal sebagai Nusantara, termasuk Jawa Barat, tanah kelahiran Suku Sunda.

Situs Gunung Padang, di Cianjur, menjadi saksi bisu kejayaan peradaban ini. Dengan luas lebih dari 3 hektare, situs berusia antara 5.000–26 ribu SM ini diyakini sebagai tempat pemujaan dan meditasi leluhur Sunda. Beberapa peneliti bahkan berani menyatakan Gunung Padang lebih tua dari Piramida Giza (2.570 SM).

Tahta Sunda Mulai Tarusbawa Hingga Sri Baduga

Kerajaan Sunda resmi berdiri pada 669 M, setelah pecahnya Kerajaan Tarumanagara. Raja pertama, Tarusbawa menurunkan tahta kepada dinasti-dinasti berikutnya yang membangun identitas Sunda sebagai kekuatan mandiri di Jawa Barat.

Namun, puncak keemasan tercapai saat Sri Baduga Maharaja naik tahta pada 1482 M. Ia dikenal luas sebagai Prabu Siliwangi, raja yang menyatukan Kerajaan Sunda dan Galuh, serta memindahkan ibu kota ke Pakuan Pajajaran, di wilayah Bogor saat ini.

Prabu Siliwangi sebagai legenda abadi. Prabu Siliwangi bukanlah nama tunggal, melainkan gelar simbolis “Silih Ngawangi” yang berarti “Wangi yang Bergantian” — raja yang wangi karena gugur mempertahankan marwah bangsa di Perang Bubat 1357.

Gelar ini kemudian melekat pada setiap raja Sunda yang dianggap luar biasa. Namun, yang paling dikenal adalah Sri Baduga Maharaja (1482–1521). Dalam tradisi lisan Pantun Sunda, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai raja yang gagah, bijaksana, dan pencinta seni.

Ia juga diasosiasikan dengan harimau putih, simbol kekuatan dan kesaktian. Konon, saat kerajaan jatuh, ia tidak tewas, melainkan “ngahyang” — menghilang menjadi roh pelindung di Gunung Salak.

Kian Santang Sang Penantang Zaman

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahir tiga tokoh penting: Walangsungsang, Rara Santang, dan Kian Santang. Yang terakhir ini jadi figur transisi penting: putra kerajaan Hindu yang memeluk Islam dan menyebarkan dakwah di tanah Sunda.

Kian Santang atau Radja Sangara, lahir pada 1427 M. Ia disebut-sebut pernah menuntut ilmu ke Makkah dan kembali sebagai Sunan Rohmat Suci, menyebarkan Islam ke pedalaman Sunda tanpa kekerasan. Ia menjadi penghubung antara dunia Hindu-Buddha dan Islam di Jawa Barat.

Siliwangi dari Kerajaan ke Tentara, dari Andil ke Sejarah Bangsa

Nama “Siliwangi” tidak berhenti di istana. Ia diabadikan sebagai nama Kodam VI/Siliwangi, salah satu satuan tentara paling bersejarah di Indonesia. Namun, sejarahnya tak selalu mulus.Pada 1965, Pasukan Siliwangi terlibat dalam penumpasan PKI pasca-G30S.

Sebagai bagian dari ABRI, mereka melakukan operasi militer di Jawa Barat dan Kalimantan Barat.

Ribuan orang dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI, ditangkap, dibunuh, atau hilang tanpa jejak. Di antaranya operasi oleh Yonif 310 Kodam Siliwangi, yang ditugaskan menumpas sisa-sisa PKI di pedalaman. Peran ini masih menjadi kontroversi.

Bagi sebagian orang, itu bentuk pengabdian negara. Bagi yang lain, itu bagian dari tragedi kemanusiaan yang tak boleh dilupakan.

Persib Bandung “Maung dengan Spirit Siliwangi’’

Di era modern, semangat Siliwangi tak lagi berwujud kerajaan atau tentara, melainkan sepak bola. Persib Bandung, dengan julukan Maung Bandung, mengadopsi harimau sebagai simbol, langsung terhubung dengan mitos Prabu Siliwangi yang diasosiasikan dengan harimau putih.

Suporter mereka, Bobotoh, mengusung semangat “Siliwangi Mamprang” — Siliwangi turun ke medan. Ini bukan hanya soal bola, tapi identitas, kebanggaan, dan perlawanan terhadap dominasi.

Di setiap pertandingan, spirit Siliwangi hidup di tengah kerumunan, dalam nyanyian, dalam ucapan: “Urang Sunda téh kudu inget kamarih, lémbur, tapi teu kuciwa.”

Siliwangi adalah linimasa yang melegenda di setiap jiwa Sunda. Siliwangi bukanlah satu tokoh. Ia linimasa yang berubah. Ia legenda—dari Gunung Padang hingga Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Ia jiwa—yang terus bergerak, menyesuaikan diri, tapi tak pernah hilang.

Dari Sundaland yang tenggelam, hingga Maung Bandung yang mengaum, suku Sunda telah membuktikan sejarah bukan hanya soal yang menang, tapi soal yang tetap diingat, yang tetap menjadi bagian dari diri, meski dunia berubah.

“Siliwangi teras ngahyang tanpa kawasanda tahta. Siliwangi setia ti gigir dugi ka hareup salawasna.”

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |