Surat Terakhir Sang Hantu yang Dibunuh Israel Singgung Kekecewaan Tapi tak akan Pernah Putus Asa

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Brigade Izzuddin Al-Qassam merilis sebuah pesan terakhir dari Kepala Staf militernya, Izz ad-Din al-Haddad, yang ditulis sebelum dia gugur.

Dalam surat yang dipublikasikan melalui akun Telegram Brigade Al-Qassam pada Ahad lalu, dikutip Aljazeera, Senin (25/5/2026), Al-Haddad mengungkapkan kesedihan mendalam atas apa yang dia sebut sebagai minimnya dukungan nyata dari dunia Islam dan komunitas internasional terhadap warga Gaza selama dua tahun perang, kelaparan, dan pembantaian yang melanda wilayah itu.

Dia menilai respons yang muncul belum sebanding dengan besarnya peristiwa 7 Oktober 2023 maupun tragedi kemanusiaan yang menghancurkan Jalur Gaza.

“Meski begitu besar pengkhianatan dan kekecewaan yang kami rasakan, kami tidak akan putus asa. Kami akan terus berjuang dan mengetuk setiap pintu,” tulis Al-Haddad dalam pesannya.

Sebelumnya, Hamas pada 16 Mei lalu mengumumkan wafatnya Al-Haddad, komandan utama Brigade Al-Qassam, yang tewas dalam serangan udara Israel di Kota Gaza. Jenazahnya dimakamkan di tengah iring-iringan besar warga Gaza.

Dalam pernyataannya saat itu, Hamas menyebut Al-Haddad gugur bersama istrinya, Ummu Shuhaib, putrinya Nur, serta sejumlah warga sipil lainnya akibat “aksi pembunuhan licik” yang dilakukan Israel.

Hamas menyatakan Al-Haddad tetap berada di garis depan pertempuran hingga saat-saat terakhir hidupnya.

Al-Haddad dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling menonjol di Brigade Al-Qassam. Ia bergabung dengan Hamas sejak organisasi itu berdiri pada 1987 dan terus naik dalam struktur kepemimpinan hingga dipercaya memimpin staf militer brigade selama perang yang berlangsung sejak Oktober 2023.

Sepanjang kariernya, ia disebut terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan berbagai operasi militer terhadap Israel.

Dia juga dikenal memiliki peran penting dalam pengembangan unit keamanan “Al-Majd”, badan internal Brigade Al-Qassam yang bertugas memburu serta menindak orang-orang yang diduga bekerja sama dengan intelijen Israel di Gaza.

Selama bertahun-tahun, Al-Haddad beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan Israel. Rumahnya di Shujaiya pertama kali dibom saat perang tahun 2009, kemudian kembali menjadi target dalam konflik 2012 dan 2021.

Setelah operasi “Badai Al-Aqsa” dimulai pada 7 Oktober 2023, Israel disebut semakin intens memburu dan menyerang lokasi-lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyiannya, hingga akhirnya ia tewas dalam serangan terakhir tersebut.    

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |