Sepi Pengunjung, TPA Masjid Baiturrahman Diubah Mahasiswa Unisa Jadi Tempat Nobar dan Bikin Gelang

4 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Setiap hari, puluhan musafir singgah di Masjid Baiturrahman Pandeyan, Sleman. Ada yang sekadar melepas lelah, berwudhu, atau melaksanakan sholat fardhu sebelum melanjutkan perjalanan. Masjid ini tak pernah sepi dari suara langkah kaki para jamaah.

Namun, di balik keramaian yang datang dan pergi itu, ada harapan yang berdetak pelan. Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang tadinya ramai, kian menyusut. Kisaran sembilan sampai 15 anak setiap harinya yang masih antusias untuk TPA.

Takmir Masjid, Fadlun Amin tak mengelak ketika ditanya terkait TPA, memang bukan perkara mudah. Ia menuturkan bahwa lokasi masjid yang berada di perkotaan membuatnya dikelilingi masjid dan mushala lain.

“Semuanya buka TPA, otomatis anak-anak terbagi-bagi. Apalagi anak-anak di sini rata-rata dari keluarga berada. Fasilitas sekolah mereka sudah sangat lengkap, termasuk pendidikan agamanya," ujarnya saat ditemui di Masjid Baiturrahman, Sabtu (28/2/2026).

Di tengah situasi itulah, tiga mahasiswa KKN Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta datang. Mereka tidak datang untuk melayani para musafir, melainkan merawat segelintir anak yang masih setia belajar di masjid.

Bukan Sekadar Mengaji

Pengajar TPA, Khansa mengaku selama ini kegiatan berjalan apa adanya. “Rutinnya hanya mengaji Iqro’ dan Alquran. Selebihnya belum ada,” ucapnya saat koordinasi, Rabu (18/2/2026).

Ketua KKN Unisa di Masjid Baiturrahman, Dian Astri membaca situasi ini sebagai peluang. Menurutnya, anak-anak butuh selingan agar tidak bosan.

“Kegiatan TPA selama ini masih umum. Karena itu, kami mencoba menyisipkan cerita kisah nabi dan kerajinan tangan. Harapannya, mereka lebih semangat datang ke masjid,” jelasnya di sela-sela kegiatan TPA, Rabu (18/2/2026).

Dari situlah lahir program-program sederhana. Anak-anak diajak membuat gelang dari manik-manik, gantungan kunci dari kawat bulu, mewarnai gambar, hingga menonton film kisah nabi.

Ayunta, salah satu wali murid, mengaku bersyukur dengan kehadiran mahasiswa KKN. Menurutnya, anak-anak kini memiliki kegiatan tambahan setelah mengaji.

“Menurut saya ini hal yang positif. Anak-anak yang tadinya hanya mengaji lalu pulang, kini setelah mengaji ada kegiatan prakarya, meronce gelang, dan mewarnai. Materi mengaji juga diperdalam dengan praktek sholat dan bacaan doa sehari-hari. Perubahannya cukup signifikan. Anak-anak menjadi lebih kreatif dan bersemangat belajarnya karena kakak-kakaknya sabar dalam mengajar,” katanya saat menjemput anak, Senin (9/3/2026).

Kolaborasi dengan Pengajar TPA

Pengajar TPA, Khansa Mujahidah Nur Hanifah, mengaku senang dapat berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Unisa. Ia menilai kehadiran mereka membawa warna baru dalam kegiatan sehari-hari.

“Saya senang bisa berkolaborasi dengan mbak-mbak KKN Unisa. Kegiatannya menjadi lebih bervariasi. Anak-anak makin semangat mengaji karena ada doorprize dan kuis-kuis mini. Mereka juga menjadi lebih kreatif setelah diajari membuat kerajinan tangan. Ada praktik tata cara wudhu juga. Selama 25 hari itu terisi dengan hal-hal positif dan bermanfaat,” jelas Khansa di Masjid Baiturrahman, Senin (9/3/2026).

Ia juga melihat perkembangan pada anak-anak didiknya. “Mereka menjadi lebih peduli dengan kakak-kakaknya. Kemampuan public speaking mereka meningkat, berani maju ke depan memimpin surat pendek dan menjawab soal. Jiwa kompetisi mereka juga bangkit," katanya menambahkan.

Tak hanya TPA, mahasiswa KKN Unisa juga ikut menghidupkan kegiatan Ramadhan. Mereka rutin mengikuti tadarus subuh dan tarawih berjamaah. Bahkan sempat turun ke jalan membagikan takjil untuk para musafir.

Takmir Berharap KKN dapat Membentengi Anak dari Media Sosial

Takmir Masjid Baiturrahman, Fadlun Amin mengaku bersyukur dengan kehadiran mahasiswa KKN Unisa. Menurutnya, mereka turut menyemarakkan Ramadhan tahun ini.

“Alhamdulillah, saya senang sekali. Keberadaan teman-teman Unisa turut menyemarakkan Ramadhan 1447 H, terutama di kalangan ibu-ibu dan anak-anak,” ujarnya di Masjid Baiturrahman, Ahad (8/3/2026).

Ia berharap kehadiran KKN dapat membantu masyarakat, terutama generasi muda, lebih memahami dampak media sosial. Sebab menurutnya, media sosial menjadi salah satu alasan anak muda enggan ke masjid.

“Harapan saya, semoga jamaahnya semakin banyak. Saya ingin masyarakat paham dan terbentengi dari efek negatif media sosial. Itu salah satu faktor mengapa remaja sekarang jarang ke masjid. Semoga dengan adanya KKN, dapat membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pemuda mengenai dampak media sosial yang sangat berpengaruh pada kehidupan sosial,” pesannya.

Sore itu, menjelang maghrib, anak-anak TPA masih asyik merapikan manik-manik hasil karyanya. Tawa mereka bersahut-sahutan di serambi masjid. Suara itu mungkin tidak terdengar sampai ke jalan raya, tidak sekeras deru kendaraan para musafir yang lalu lalang. Namun, di hati para mahasiswa KKN, tawa itu adalah azan lain yang tidak ingin mereka padamkan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |