Sahabat Nabi Muhammad yang Melukiskan Sakaratul Maut Menjelang Wafat

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Detik-detik sakaratul maut kerap menjadi misteri yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Namun, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW justru memberikan gambaran yang begitu mendalam tentang dahsyatnya saat perpisahan antara ruh dan jasad. Kisah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, yang menuturkan langsung pengakuan sang ayah menjelang wafatnya, sebagai pelajaran berharga tentang kefanaan dunia dan hakikat kematian yang tak terelakkan.

Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menuliskan, diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, bahwasanya ia berkata, “Perkataan yang paling sering diucapkan oleh ayahku adalah: Aku sungguh heran terhadap seseorang yang menjelang saat kematiannya tidak mau melukiskan bagaimana keadaan saat itu, padahal ia masih mempunyai akal dan mulutnya masih berbicara."

Abdullah berkata, “Kemudian ketika menjelang saat kematian ayahku, di mana waktu itu ayah masih mempunyai akal dan mulutnya masih bisa berbicara, aku berkata kepadanya: Wahai ayah, engkau sering mengatakan bahwa engkau sungguh heran terhadap seseorang yang menjelang saat kematiannya tidak mau melukiskan bagaimana keadaan saat itu, padahal ia masih mempunyai akal dan mulutnya masih berbicara."

"Kemudian ayahku berkata: Wahai anakku, mati sangat jauh untuk bisa dilukiskan, namun aku akan sedikit melukiskan tentang mati. Demi Allah, seolah-olah pada bahuku ada gunung Radhwa, seolah-olah nyawaku keluar melalui lubang jarum, seolah-olah di dalam perutku terdapat pohon duri, dan seolah-olah langit dikatupkan dengan bumi dan aku berada di tengah-tengahnya."

"Kemudian ayah berkata lagi: Wahai anakku, keadaanku telah berpindah-pindah kepada tiga situasi, pertama aku adalah orang yang paling berambisi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW maka betapa celakanya seandainya aku mati pada waktu itu."

"(Kedua) kemudian Allah memberi petunjuk-Nya kepadaku, lalu aku masuk Islam dan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling aku cintai, sehingga beliau mempercayakan aku untuk memimpin peperangan, maka betapa bahagianya seandainya aku mati pada waktu itu karena memperoleh doa Rasulullah SAW. Beliau menyalati untukku.

"(Ketiga) kemudian aku sibuk mengurusi masalah dunia, maka kini aku tidak tahu keadaanku di sisi Allah Ta‘ala."

Abdullah berkata, "Aku tidak bangkit dari sisi ayah sampai dia meninggal dunia.”

Dalam kisah lain, Umar bin Khattab berkata kepada Ka'ab, "Wahai Ka'ab, ceritakanlah kepada kami tentang mati.”

Ka'ab berkata, “Sesungguhnya mati itu ibarat pohon duri yang dimasukkan ke dalam perut manusia, lantas setiap duri itu mengait dengan urat, kemudian ditarik oleh seseorang yang sangat kuat, kemudian terputuslah urat yang bisa putus dan tersisalah apa yang tidak bisa putus."

Disebutkan dari Sufyan Ats-Tsauri bahwasanya jika ia sedang mengingat mati, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa selama berhari-hari, dan apabila ditanya tentang sesuatu, ia menjawab, “Aku tidak tahu, aku tidak tahu.”

Al-Hakim berkata, “Tiga hal yang sama sekali tidak boleh dilupakan oleh orang yang berakal, yaitu ketidakkekalan dunia dengan segala pergolakannya, mati, dan bencana yang ia tidak akan selalu aman daripadanya.”

Hatim Al-Asham berkata, “Ada empat hal yang tidak diketahui kadar (nilainya) kecuali oleh empat orang, yaitu nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang tua, nilai keselamatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sedang ditimpa musibah, nilai kesehatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sakit, dan nilai hidup tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah mati.”

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |