Penumpang berjalan di dalam ruang keberangkatan di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Indonesia, 1 Maret 2026. Sedikitnya empat penerbangan dari Bali menuju Doha dan Dubai dibatalkan di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
REPUBLIKA.CO.ID,DUBAI — Ratusan ribu pelancong dilaporkan terdampar di kawasan Timur Tengah setelah ribuan penerbangan dibatalkan akibat perang yang meluas di wilayah tersebut menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Gangguan perjalanan udara ini memicu kekacauan di berbagai bandara utama kawasan Teluk. Sejumlah negara Barat kini memperluas upaya evakuasi untuk membawa pulang warga negara mereka dari wilayah yang terdampak konflik.
Komisi Eropa menyatakan sedikitnya enam penerbangan repatriasi yang didukung Uni Eropa telah diberangkatkan sejak Rabu (4/3/2026). Penerbangan tersebut memulangkan warga Eropa ke sejumlah negara, antara lain Bulgaria, Italia, Austria, dan Slovakia.
Komisi menyebut penerbangan evakuasi tambahan masih direncanakan dalam beberapa hari mendatang. Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengumumkan akan meningkatkan jumlah penerbangan evakuasi dari kawasan Timur Tengah. Para pejabat menyebutkan lebih dari 17.500 warga Amerika telah kembali ke Amerika Serikat sejak 28 Februari.
Penerbangan evakuasi tersebut berangkat dari sejumlah pusat transportasi regional, termasuk Dubai dan Jeddah. Negara-negara Eropa lain seperti Prancis, Jerman, dan Republik Ceko juga mengatur penerbangan khusus untuk mengevakuasi warga mereka dari kawasan tersebut.
Pemerintah Inggris menyebut penerbangan charter evakuasi pertama dari Muscat, ibu kota Oman, sempat tertunda karena masalah teknis. Namun pesawat tersebut diperkirakan segera berangkat. Menteri luar negeri Inggris mengungkapkan lebih dari 300 ribu warga negara Inggris tinggal atau sedang transit di negara-negara Teluk.
"Lebih dari 11 ribu penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara-bandara utama di 10 negara telah dibatalkan sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari," demikian laporan Saudigazette mengutip data dari Flightradar24, Sabtu (7/3/2026).
.png)
3 hours ago
4
















































