Rencana Pajak Daerah Kelapa Sawit per Bulan, Popsi Menolak

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana pengenaan pajak daerah sebesar Rp 1.700 per batang kelapa sawit per bulan menuai penolakan keras dari kalangan petani sawit. Ketua Umum Perkumpulan Petani Sawit Indonesia (Popsi), Mansuetus Darto menyebut, kebijakan tersebut sangat memberatkan petani kecil dan berpotensi menekan keberlanjutan sawit rakyat.

Dia dengan tegas, meminta agar usulan pajak daerah tersebut dikaji ulang, bahkan dibatalkan. "Kebijakan ini tidak berpihak pada petani kecil, tidak transparan, dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang besar. Pajak seharusnya menyejahterakan rakyat, bukan menyengsarakan," kata Mansuetus dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Menurut dia, jika dihitung secara agregat, dampak kebijakan tersebut sangat besar. Mansuetus mencontohkan, luas perkebunan sawit rakyat di Provinsi Riau sekitar 1,7 juta hektare dan kepadatan rata-rata 136 pohon per hektare. Adapun jumlah pohon sawit rakyat diperkirakan mencapai 231,2 juta batang.

Jika seluruhnya dikenakan Rp 1.700 per batang per bulan, total beban pajak yang harus ditanggung petani rakyat mencapai sekitar Rp 393 miliar per bulan. Angka itu setara Rp 4,72 triliun per tahun.

Di level petani, beban pajak setara Rp 231.200 per hektare per bulan atau sekitar Rp 2,77 juta per hektare per tahun. "Angka ini sangat signifikan bagi petani kecil yang menggantungkan hidup dari sawit," ucap Mansuetus.

Dia menyebut, dampak pajak tersebut tidak hanya berhenti pada angka nominal, tetapi juga menggerus pendapatan petani dari harga tandan buah segar (TBS). Dengan asumsi harga TBS sekitar Rp 3.000 per kilogram (kg) dan produksi rata-rata 1,2 ton per hektare per bulan, pendapatan kotor petani di kisaran Rp 3,6 juta per hektare per bulan.

Beban pajak Rp 231.200 tersebut setara dengan penurunan harga TBS sekitar Rp 190-Rp 193 per kilogram. "Artinya harga riil yang diterima petani turun menjadi sekitar Rp 2.800 per kilogram, atau terpangkas lebih dari enam persen. Itu belum termasuk biaya pupuk, panen, transportasi, dan potongan pabrik," jelas Mansuetus.

Dia menjelaskan, tekanan riil bisa jauh lebih besar karena pabrik sawit juga ikut terdampak. "Pabrik pasti tertekan dan ujungnya harga beli ke petani akan turun lagi. Kerugian bisa mencapai 6 sampai 10 persen per kilogram TBS," ujar Mansuetus.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |