Rasulullah Melarang Puasa Saat Sya'ban Sampai di Pertengahan, Bagaimana yang Terbiasa Puasa Sunah?

2 weeks ago 10

Sejumlah umat Islam membaca Alquran surat Yasin pada Malam Nisfu Syaban di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (2/2/2026). Malam Nisfu Syaban momentum spiritual bagi umat Islam untuk muhasabah atau instropeksi diri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H.

REPUBLIKA.CO.ID,Syaban menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak amalan, termasuk puasa sunah. Namun, kerap muncul pertanyaan, kapan batas waktu terakhir melaksanakan puasa sunah di bulan Sya’ban sebelum memasuki Ramadhan?

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling banyak berpuasa sunah di bulan Syaban dibanding bulan-bulan lainnya selain Ramadhan. 

Aisyah RA meriwayatkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjadi dasar kuat anjuran memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Ramadhan. Namun demikian, terdapat pula hadits yang memberi batasan.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى يَكُوْنَ رَمَضَانُ

Artinya: "Kalau Syaban sudah mencapai pertengahan, maka janganlah kalian melakukan puasa (sunah) sampai Ramadhan, (HR Tirmidzi nomor 738).

Berdasarkan hadits tersebut, maka larangan tersebut mulai berlaku sejak 16 sampai 29 atau 30 Syaban. Dan barang siapa yang tetap berpuasa, maka hukumnya haram.

Akan tetapi, ada juga ulama yang berbeda pendapat dalam memaknai hadits tersebut. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa larangan itu ditujukan bagi mereka yang tidak memiliki kebiasaan puasa sebelumnya. 

Malam Nisfu Syaban (ilustrasi)

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |