Pilih Pangkas Untung Bukan Naik Harga, Susah Payah Perajin Tahu Akali Lonjakan Harga Kedelai

2 hours ago 1

Aktivitas pekerja di pabrik tahu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga kedelai yang terus merangkak naik memukul industri tahu rumahan di Kulon Progo. Perajin Tahu Nunggal Roso di Kalurahan Tuksono kini terpaksa mengecilkan ukuran tahu demi bertahan di tengah lonjakan harga kedelai yang menyentuh Rp11.000 per kilogram. Langkah itu dipilih karena menaikkan harga jual dinilai lebih berisiko: pelanggan bisa pergi, sementara biaya produksi terus membengkak.

“Daripada harga naik dan pembeli kabur, kami kurangi ukuran beberapa milimeter,” kata Wakil Ketua Tahu Nunggal Roso, Mubari, Senin (25/5/2026).

Strategi itu menjadi jalan pahit yang harus diambil perajin agar pasar tradisional tetap menyerap produk mereka. Di sisi lain, keuntungan perajin semakin menipis karena kedelai menyumbang hingga 70 persen biaya produksi.

Tekanan tidak berhenti pada bahan baku. Perajin kini juga harus mengencangkan pengeluaran untuk kayu bakar, gas, hingga kemasan plastik. Setiap proses produksi diawasi ketat agar tidak ada kedelai yang terbuang sia-sia. “Setiap butir kedelai harus dimasak maksimal,” ujar Mubari. Namun efisiensi saja tidak cukup menutup lonjakan biaya yang terus menghantam usaha kecil.

Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya industri pangan rumahan terhadap gejolak bahan baku impor. Perajin tahu berada dalam posisi serba salah: menaikkan harga berarti kehilangan pasar, mempertahankan harga berarti menggerus keuntungan sendiri. Untuk menambal kerugian, sebagian perajin kini mengandalkan penjualan ampas tahu sebagai pakan ternak atau bahan tempe gembus demi menjaga arus kas tetap hidup.

Perajin berharap pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Mereka meminta langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai dan memotong rantai distribusi yang dinilai memberatkan usaha kecil. “Subsidi atau distribusi yang lebih pendek akan sangat membantu kami bertahan,” kata perajin lainnya, Suhadi. Tanpa intervensi nyata, tahu murah yang selama ini menjadi sumber protein rakyat terancam ikut menyusut—bukan hanya ukurannya, tetapi juga keberlangsungan industrinya.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |