Pesan Rahasia Rasulullah ke Ali Bin Abi Thalib Soal Sifat Wara

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam ajaran Islam, sifat wara menjadi salah satu akhlak penting yang harus dimiliki setiap Muslim. Wara berarti sikap berhati-hati dan menahan diri dari segala sesuatu yang berpotensi membawa kepada keburukan maupun kemaksiatan. Dengan sifat ini, seseorang akan lebih mampu memilih jalan yang baik, halal, dan membawa maslahat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wara atau warak diartikan sebagai sikap patuh dan taat kepada Allah SWT. Para ulama juga menjelaskan bahwa wara bukan hanya meninggalkan yang haram, tetapi juga menjauhi perkara syubhat atau hal-hal yang belum jelas status hukumnya agar tidak terjerumus dalam dosa.

Rasulullah SAW dalam sejumlah hadits menjelaskan pentingnya sifat wara dalam kehidupan seorang Muslim.

Iman Tidak Sempurna tanpa Wara

Dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Imam Asy-Sya’rani, Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang pentingnya wara dalam kehidupan beragama.

يَا عَلِيُّ، لَا دِيْنَ لِمَنْ لَا خَشْيَةَ لَهُ وَلَا عَقْلَ لِمَنْ لَا عِصْمَةَ لَهُ وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا وَرَعَ لَهُ وَلَا عِبَادَةَ لِمَنْ لَا عِلْمَ لَهُ وَلَا مُرُوْءَةَ لِمَنْ لَا صَدَقَةَ لَهُ وَلَا أَمَانَ لِمَنْ لَا سِرَّ لَهُ وَلَا تَوْبَةَ لِمَنْ لَا تَوْفِيْقَ لَهُ وَلَا سَخَاءَ لِمَنْ لَا حَيَاءَ لَهُ

Yā ‘Aliyyu, lā dīna liman lā khasyyata lah, wa lā ‘aqla liman lā ‘iṣmata lah, wa lā īmāna liman lā wara‘a lah, wa lā ‘ibādata liman lā ‘ilma lah, wa lā murū’ata liman lā ṣadaqata lah, wa lā amāna liman lā sirra lah, wa lā taubata liman lā taufīqa lah, wa lā sakhā’a liman lā ḥayā’a lah.

“Wahai Ali, tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Tidak ada akal bagi orang yang tidak mampu menjaga dirinya. Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat wara. Tidak ada ibadah bagi orang yang tidak memiliki ilmu. Tidak ada kehormatan bagi orang yang tidak bersedekah. Tidak ada amanah bagi orang yang tidak dapat menjaga rahasia. Tidak ada taubat bagi orang yang tidak mendapat taufik. Dan tidak ada kedermawanan bagi orang yang tidak memiliki rasa malu.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa wara merupakan bagian penting dari kesempurnaan iman. Seseorang yang tidak memiliki kehati-hatian terhadap dosa dan maksiat dikhawatirkan mudah terjerumus dalam perbuatan yang merusak agamanya sendiri.

Orang yang Tidak Wara Disebut Tidak Memiliki Iman

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa orang yang tidak memiliki sifat wara terhadap kemaksiatan berarti tidak memiliki iman yang kuat dalam hatinya.

يَا عَلِيُّ، مَنْ لَمْ يَكُنْ وَرَعًا عَنِ الْمَعَاصِيْ فَبَطْنُ الْأَرْضِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ظَهْرِهَا لِأَنَّهُ لَا إِيْمَانَ فِيْ قَلْبِهِ

Yā ‘Aliyyu, man lam yakun wara‘an ‘anil-ma‘āṣī fa baṭnul-arḍi khairun lahū min ẓahrihā li annahū lā īmāna fī qalbih.

“Wahai Ali, siapa yang tidak memiliki sifat wara terhadap kemaksiatan, maka perut bumi lebih baik baginya daripada permukaan bumi, karena sesungguhnya tidak ada iman di dalam hatinya.”

Para ulama menjelaskan maksud hadits ini bukan mendoakan keburukan, melainkan peringatan keras agar seorang Muslim tidak terus-menerus hidup dalam kemaksiatan tanpa rasa takut kepada Allah SWT.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |